Kelas Nusa

Kelas Nusa
Kelas Nusa : Kita Semua adalah Inspirasi

Friday, 19 September 2014

Asesmen Hasil Belajar


Asesmen merupakan proses mendokumentasi, melalui proses pengukuran, pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan keyakinan peserta didik. Dapat dinyatakan pula bahwa asesmen merupakan kegiatan sistematik untuk memperoleh informasi tentang apa yang dikatahui, dilakukan, dan dikerjakan oleh peserta didik.
Pengertian Asesmen yang disampaikan oleh para pakar asesmen pembelajaran.
1.      Khan, Hardas, dan Ma (2005) menyatakan bahwa asessment is the process of documenting, usually in measurable terms, knowledge, skills, attitudes and beliefes (Assesmen merupakan proses mendokumentasikan pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan keyakinan)
2.      NAEYC (1990) menyatakan bahwa assesment is the process of observing, recording, and otherwise documenting the work children do and how they do it, as a basis for a variety of educational decisions that affect the child. (Asesmen merupakan proses pengamatan, pencatatan, dan selanjutnya pendokumentasian pekrjaan yang dikerjakan peserta didik dan cara cara peserta didik mengerjakannya, untuk dijadikan sebagai dasar dari berbagai pembuatan keputusan pendidikan yang mempengaruhi anak.
3.      Dodge dan Bickart (1994) menyatakan bahwa assesment is the processof gathering information about in order to make decision about their education (assesmen merupakan proses memperoleh informasi tentang anak untuk membuat keputusan tentang pendidikannya).  Asesmen yang berlangsung dalam proses pembelajaran dapat digunkan untuk memperoleh gambaran kemampuan dan kemajuan peserta didik secara akurat dan objektif.
4.      Hills (1992) menyatakan bahwa assement involves the multiply steps of collecting data on a child’s development and learning, determining its significance in light of the program goals and objectives, incorporating the information into planning for individuals and programs, and communicating the finding to parents and other involved parties ( aesmen terdiri atas tahap pengumpulan data tentang perkembangan dan belajar peserta didik, menentukan kebermaknaan tujuan program, memadukan informasi kedalam perencanaan program, dan mengkomunikasikan temuan kepada orang tua dan pihak-pihak yang berkepentingan.
Evaluasi memiliki kesamaan dengan asesmen, kadang-kadang kedua istilah itu digunakan secara bergantian. Asesmen biasanya berkaitan dengan prestasi belajar peserta didik. Dalam pemakaian yang lebih sempit, asesmen disamakan dengan ujian, sedangkan dalam pemakaian yang lebih luas, asesmen disamakan dengan evalusai. Oleh karena itu evaluasi itu memiliki tujuan untuk mengetahui sikap peserta didik, kesadaran karer, kepekaan budaya, praktik pembelajaran, kurikulum, personel sekolah, dan sebagainya.
Dilapangan evaluasi pembelajaran banyak orang yang membedakan antara evaluasi dan asesmen. Evaluasi dipandang lebih luas dibandingkan dengan asesmen karena evaluasi berkaitan dengan pembuatan keputusan tentang nilai atau harga diri suatu objek.  Asesmen dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik tertentu, sementara evaluasi dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik dan penentuan nilai atau harga suatu objek. Shepard (1994) membedakan antara istilah asesmen dengan tes, walaupun secara teknis keduanya memiliki makna yang sama. Dia menyatakan tes sebagai kegiatan pengukuran tradisional, pengukuran pra akademik dan perkembangan anak yang tidak standar, dan menggunakan istilah asesmen yang mengacu pada proses pengamatan dan penilaian anak yang sesuai dengan perkembangan anak.
Perbedaan lain berkaitan dengan objek yang dikaji. Asesmen biasanya berkaitan dengan prestasi peserta didik. Dalam pemakaian yang paling sempit, asesmen disamakan dengan ujian. Dalam pemakaian yang paling luas, asesmen digunakan secara bergantian dengan evaluasi. Evaluasi kegiatan pendidikan dapat  menggunakan asesmen hasil belajar peserta didik namun dalam skala yang lebih luas. Evaluasi dapat mencakup tujuan seperti sikap peserta didik, kesadaran karier peserta didik, kepekaan kultural, praktik mengajar, dan sebagainya

Sunday, 4 May 2014

didepan anak-anak, jangan banyak mengulang instruksi!

Why?
Kenapa?
Emang nanti gmn?
Apa iya?



Iyaaaaappp.
Didepan anak-anak, sewaktu kita memberikan instruksi atau dalam pengajaran di kelas kita jangan terlalu sering mengulang kata-kata yang kita ucakan.

Kenapa bisa begitu??

Hal ini dapat mengakibatan anak-anak justru kurang fokus kepada kita, kok bisa?
Jadi ketika kita sedang berbicara didepan anak-anak kalau kita sering mengulang instruksi yang kita ucapkan itu akan membuat mereka tidak fokus dengan apa yang sedang kita ucapkan karena mereka tahu bahwa instruksi tersebut akan diulang. Mereka akan berada pada fokus mereka dan mendengarkan apa yang kita instruksikan ketika mereka telah selesai dari bermain mereka yaitu mereka menunggu instruksi yang terakhir.

Nah, jadi bagaimana ya harusnya.
Buatlah sebuah permainan sebelum memulai kegiatan belajar, dari permainan tersebut buatlah anak-anak harus fokus terlebih dahulu. Anak-anak harus memfokuskan diri mereka karena jika mereka tidak fokus mereka akan terlewat dari permainan kita. Sekian

Mungkin penjelasan diatas kurang begitu jelas, tapi hal ini terjadi kepada kita. :D
Jika kalian punya tambahan, silahkan dikomen ya. 

Malas Membaca!

   


   Sungguh sebuah "kesayangan" jikalau Pendidikan hanya mengedepankan keberhasilan siswa dalam "test". Sekolah-sekolah hanya terfokus dengan bagaimana membuat angka kelulusan dapat meningkat. Kesalahan yang terjadi adalah Sekolah terlalu fokus dengan hasil dari test tersebut sehingga prosesnya terlupakan. 

     Siswa terus dituntut untuk mendapatkan hasil terbaik dalam setiap test, tapi mereka tidak pernah diperhatikan masalah membaca mereka. Padahal pengetahuan berasal dari membaca, sungguh sayang bisa terjadi demikian. 

     Kata-kata yang muncul dari siswa adalah " Saya malas membaca", kata-kata itu akan akrab dijumpai oleh para guru. Mungkin ini termasuk dosa besar para pendidik kita. Tapi ini adalah sebuah sistem, kesalahannya ada pada semua komponen pada sistem itu.

     Hal kecil yang dapat kita lakukan adalah kita ciptakan membaca rekreatif yang menyenangkan. Dalam situasi rumah misalnya janganlah melarang anak saat menonton TV. "Malam ini kamu tidak boleh menonton TV!" tapi cobalah "Kamu bisa menonton TV nanti setelah kamu selesai membaca Buku itu". Jangan sampai terjadi membaca karena terpaksa, membaca harus pada kondisi yang menyenangkan. Membaca untuk Relaksasi

Saturday, 7 December 2013

Yakinlah bahwa Pilihan-pilihan mu itu sudah benar, maksimalkan saja semua itu.


Hidup selalu dihadapkan dengan yang namanya pilihan. Manusia memang sudah diset untuk bisa berpikir menentukan pilihan yang benar untuk dirinya. Dalam menghadapi pilihan-pilihan yang ada pada hidupnya manusia mempunyai kemampuan mempertimbangkan segala sesuatu yang menjadi dampak dari keputusannya. Kata Aristoteles, ada dua keunggulan manusia yang disebut dengan human excellence (keunggulan pemikian) dan excellen of character (kehebatan dalam karakter).

Pilihan-pilihan hidup yang aka dihadapan kita seringkali itu sangat penting untuk masa depan kita dijaman yang akan datang. Namun tidak masalah apabila kita gagal dalam memilih karena itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. Kita tidak akan pernah tahu mana diantara pilihan yang kita hadapi tersebut yang hasilnya akan baik untuk kita karena kita tidak tahu seperti apa takdir kita dan yang bisa kita lakukan adalah menentukan jalan mana yang terbaik untuk kita, kemudian selebihnya kita kembalikan kepada Tuhan karena Tuhanlah yang mengetahui segalanya.
Dalam sela –sela hidup harus berdoa kepada Yang Kuasa, Ya Allah dekatkanlah selalu Hamba denganMu, ingatkan Hamba apabila lupa, Ya Allah semoga Hamba menjadi makhluk yang Engkau selalu sayang, selalu diberikan solusi-solusi untuk memecahkan segala permasalahan, selalu tepat dalam menentukan pilihan-pilihan, Berikan kekuatan itu ya Allah, Amin.
Pilihan yang benar berasal dari dasar hati nurani, jika kita mengenal diri kita seperti apa akan mudah bagi kita untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Lepaskan topeng-topeng kita berlakulah sebagai kita yang sebenarnya. Pilihan-pilihan hidup akan mudah kita tentukan, masalah-masalah hidup akan mudah kita cari solusinya karena kita mengenal diri kita, kita tahu seberapa kuat kemampuan kita.

Terimakasih,
Selalu berbuatlah baik kepada orang lain, jangan sampai ada sedikitpun omongan-omongan tidak baik tentang kita terucap dibelakang kita, buatlah yang sebaliknya.
Cerdas & Karakter

Sunday, 1 December 2013

Happy, Family, Smile at Work

     Menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengelola anggotanya. Kunci keberhasilan sebuah organisasi berada pada tangan seorang pemimpin yang menjadi panutan. Seorang pemimpin harus pandai dalam melihat potensi-potensi yang ada, dia harus yakin bahwa pada setiap diri anggotanya memiliki potensi yang bisa memajukan organisasi.
     Ada sebuah kasus ketika sebuah organisasi telah ada potensi-potensi yang bagus dari masing-masing anggotanya, namun seorang pemimpin gagal dalam mengelola asetnya tersebut yang terjadi adalah justru menjadi bumerang pada dirinya.
    Permasalahan yang sering muncul dalam Organisasi adalah loyalitas atau kesetiaan, kita sering jumpai sebuah organisasi kuat dan kompak ketika awal berjalan namun ketika ditengah-tengah perjalanannya ketika badai mulai menerpa kekuatan itu mulai runtuh satu persatu. Ketika dalam paruh perjalanan sebuah organisasi istilah “seleksi alam” mulai muncul. Mereka yang benar-benar loyal terhadap organisasi akan tetap terus memperjuangkan organisasi, sedangkan mereka yang tidak loyal mereka akan pindah atau bahkan membuat kubu-kubu tersendiri untuk menggulingkan kepemimpinan. Hal tersebut dapat terjadi karena keinginan mereka tidak dipenuhi oleh seorang pemimpin mereka memiliki kualitas namun pemimpin tidak mewadahinya.
   Kunci Keberhasilan Organisasi berada pada diri Pemimpinnya. Ketika seorang pemimpin mampu menyatukan segala potensi yang ada pada anggotanya maka itu akan menjadi kekuatan bagi sebuah organisasi untuk maju dan berkembang. Seorang pemimpin harus bisa menciptakan rasa senang bagi seluruh anggotanya, ketika mereka sudah senang mereka akan bekerja dengan optimal mengerahkan segala daya dan upaya mereka segala yang mereka miliki akan mereka kerahkan. Mereka melakukan hal itu karena mereka senang melakukannya dan tentunya mengharapkan keberhasilan.
Dalam sebuah organisasi jika kenyamanan itu ada maka rasa keharmonisasianpun akan tercipta, mereka senang bekerja bersama, mereka sangat antusias untuk memajukan organisasi bersama, persaingan yang ada adalah persaingan yang positif tidak menjatuhkan salah satu lawan.
Inti dari apa yang saya sampaikan adalah Kebahagiaan, Rasa Satu Keluarga sehingga dalam menjalani setiap tugas yang ada dalam Organisasi.

Terimakasih, sampai jumpa dengan cerita pengalaman saya yang selanjutnya.

Jadilah orang yang menyenangkan untuk orang lain, dengan begitu keberadaan kalian akan sangat dirasakan dan ketidakberadaannya kalian akan sangat dirindukan.


Bahrul Ulum Al Rasyid

@bahrulalrasyid

Tuesday, 30 July 2013

Jangan Malu jadi Mahasiswa PGSD!


Hallo Temann, kali ini saya akan membagikan tulisan yang luar biasa nih. Kenapa luar biasa? baca aja ya, pas banget kalau kalian sedang kuliah dijurusan PGSD apalagi kalau kalian baru masuk PGSD ini akan menambah motivasi kalian kuliah di PGSD. Bukan tulisan saya sendiri memang, tapi lebih banyak  persis seperti yang ada dibenak pikiran saya dan yang saya alami selama menjadi Mahasiswa PGSD, bukan maksud plagiasi cuma ingin membagikan sesuatu yang bermanfaat aja. Semoga berkenan. :D Keep Smile...hehehe

Dari : Kharissa Widya Kresna

      PGSD? Sering kali itulah yang ada dalam benak teman-teman kalau bicara tentang jurusan PGSD. Kenapa? Karena mindset teman-teman sudah terpatri bahwa PGSD nantinya hanya akan menjadi guru SD. Guru SD yang tiap harinya berkutat dengan anak-anak usia 7-12 tahun yang sangat badung. Guru SD yang gajinya sedikit. Guru SD yang harus berurusan dengan semua tetek bengek sekolah yang menyebalkan. Dimata sebagian besar rakyat Indonesia, guru SD adalah profesi yang tidak bergengsi.
     Namun semua mindset itu mulai goyah ketika ada isu dari pemerintah yang menyebutkan bahwa kesejahteraan guru SD akan sangat diperhatikan dimasa mendatang. Mulai-lah para orangtua berbondong-bondong menyuruh (baca: menyarankan) anaknya untuk mengambil jurusan ini. PGSD menjadi jurusan yang popular di masyarakat. Puluhan ribu fresh graduate dari SMA menyerbu jurusan ini. Sayangnya, yang tau hal-hal semacam ini juga hanya para pendahulu kita yang profesinya bersenggolan dengan dunia pendidikan. Dimasyarakat biasa, tetap saja profesi guru SD adalah suatu hal yang kurang membanggakan.
     Lebih lanjut, jurusan yang nantinya mencetak pendidik awal generasi penerus bangsa ini tetap saja ‘terpinggirkan’. Kenapa begitu? Karena dimata mahasiswa dari jurusan lain, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang kurang modis. Bahkan, pada beberapa universitas yang memisahkan kampus PGSD-nya dari kampus utama gap social ini semakin terasa. Setiap kali menjejakkan kaki di kampus utama, langkah mahasiswa PGSD diiringi tatapan aneh dari teman-teman diluar jurusan PGSD. Tentu tidak semua seperti itu. Ada juga yang menghargai perbedaan. Tapi untuk mahasiswa gaul diluar sana, PGSD bukan termasuk mahasiswa yang bisa disebut keren.
     Dari berbagai fenomena inilah, maka banyak sekali mahasiswa jurusan PGSD menjadi tidak bangga menjadi bagian jurusan mereka. Mereka mengambil jurusan ini hanya atas dorongan orangtua dengan mempertimbangkan gaji jika sudah menjadi PNS nanti. Itu juga tidak salah. Orangtua mana yang ingin menyesatkan anaknya?
Tapi kawan, PGSD sebenarnya bukan hanya jurusan pendidikan guru, tetapi juga sekolah kepribadian. Kenapa begitu? Karena ketika kita menapakkan kaki di PGSD, untuk 4 tahun mendatang kita akan digodog menjadi pribadi yang santun dan bermasyarakat. Mahasiswa PGSD lebih bisa melihat situasi masyarakat yang ada. Karena mereka memang nantinya kembali pada masyarakat lapisan menengah kebawah. Karena mahasiswa PGSD nantinya berjuang ditengah-tengah dinamika masyarakat yang hingga saat ini aspirasinya belum tersalurkan. Dan yang lebih penting, mahasiswa PGSD menjadi tonggak perbaikan bangsa karena mereka-lah yang menyiapkan generasi muda penerus negara ini.
     Karena tugasnya yang berat inilah, mahasiswa PGSD digembleng dengan berbagai kegiatan yang membentuk karakter mereka. Mulai dari rangkaian kegiatan kepramukaan yang melelahkan, sampai pada kegiatan perkuliahan yang mengharuskan mereka berlatih berbicara di depan orang banyak, termasuk berlatih memanagemen banyak orang didalam satu ruangan. Hal-hal seperti inilah yang baik disadari atau tidak juga membentuk karakter mereka. Secara tidak langsung, mereka telah mempersiapkan diri mereka sekaligus membangun kembali karakter manusia Indonesia yang seutuhnya. PGSD yang notabene ‘terpinggirkan’ justru adalah salah satu elemen penting pembangun bangsa.
     Alasan lain adalah, kuliah di PGSD secara tidak langsung mendidik kita baik dari cara berpakaian, cara bicara, hingga cara bergaul dalam masyarakat maupun sesama teman. Kita tanpa sadar telah terbiasa berpenampilan dan bergaul di masyarakat sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat dan juga dosen-dosen dari jurusan lain bahkan mengakui bahwa ketika mahasiswa diterjunkan dalam masyarakat, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang lebih mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
     Mahasiswa PGSD adalah seorang generalis, terspesialisasi dalam kemahirannya di salah satu bidang, misalnya tari, music, karya ilmiah, penelitian, cabang olahraga, dan bidang lainnya. Sehingga modal jurusan ini untuk bisa berkembang sangat mumpuni. Keuntungan mahasiswa PGSD yang generalis sudah teraih,  dan masih pula mendapat fasilitas untuk mendalami spesifikasi tertentu. Jika seorang generalis ‘banyak tahu’ dalam artian mengerti banyak hal tapi dangkal, seorang spesialis ‘tahu banyak’ dalam artian sedikit hal tetapi dalam. So, tugas mahasiswa PGSD yaitu menjadi ‘GEN SPESIAL’. Mengerti banyak hal dan dalam. (Siron, 2012)
Jadi? Jangan malu jadi mahasiswa PGSD!

Tuesday, 16 July 2013

Perkembangan Intelektual Peserta Didik

2.1 Pengertian Intelektual Peserta Didik
Istilah  intelek berasal dari bahasa intellect yang berarti 1. Proses kognitif berpikir, daya menghubungkan serta kemampuan menilai dan mempertimbangkan, 2. Kemampuan mental atau intelegensi (caplin,1981,252). Masyarakat umum  mengenal intelegensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan problem.
Banyak pengertian intelegensi yang dikemukakan oleh para ahli .L.M Terman menyatakan bahwa intelegensi adalah kesanggupan untuk belajar secara abstrak. Terman membedakan antara kemampuan (ability) yang berhubungan dengan hal-hal yang konkret dan yang abstrak. Orang dikatakan intelegen jika orang tersebut dapat berpikir abstrak dengan baik.
Sedangkan D.Wechsler mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak terarah atau bertujuan berpikir secara rasional serta dapat menghadapi lingkungan dengan efektif (Azwar,1996,7).
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan para ahli intelegensi, dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah kemampuan relative untuk melakukan fungsi mental, meliputi penalaran, pemahaman, mengingat, mengaplikasikan gambar. (Fuherman.1990:286)
Dalam mengkaji intelegensi paling tidak ada dua pendekatan yang biasa dipakai yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif/perkembangan. Pendekatan kuantitatif lebih menitikberatkan pada intelegensi dari sisi psikometris dan struktur intelegensi. Pendekatan psikometris memandang intelegensi sebagai sesuatu yang statis yaitu serangkaian kemampuan yang dapat diukur. Sedangkan pendekatan perkembangan menekankan perkembangan secara kualitatif dalam proses berfikir didasarkan pada pengaruh kematangan dan lingkungan.
Dalam arti sempit intelegensi didasarkan pada intelegensi operasional, termasuk pada taraf-taraf bercirikan intelegensi tertentu. Perkembangan kognisi menurut Piget dapat dibagi menjadi beberapa stadium. Hal ini berarti fungsi kognitif pada umur yang berbeda akan jelas dibedakan satu sama lain. Stadium yang berurutan ini menunjukan kemungkinan kognitif dari yang sebelumnya belum ada. Stadium atau tahap perkembangan kognisi tersebut adalah :
a.         Tahap sensomotorik/instingtif (0-2 tahun)
Tahap ini merupakan masa dimana segala tindakan tergantung melalui pengalaman indrawi. Anak melihat dan meresapkan apa yang terjadi, tetapi belum mempunyai cara untuk mengkatagorikan pengalaman itu.

b.         Tahap praoperasional/intuitif (2-7 tahun)
Dalam tahap ini individu tidak ditentukan oleh pengamatan indrawi sja tetapi oleh intuisi. Pada masa ini anak siap untuk belajar bahasa, membaca, menyanyi. Cara belajar yang memegang peran pada tahap ini adalah intuisi (gerak hati). Pada tahap ini anak suka berkhayal. Intuisi membebaskan mereka dan semaunya berbicara, tanpa menghiraukan pengalaman konkret dan paksaan dari luar. Contohnya adalah ketika anak berbicara sendiri.
c.         Tahap konkret operasional (7-11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah memahami hubungan fungsional, karena mereka sudah menguji coba permasalahan. Cara berpikir anak masih konkret belum menangkap yang abstrak.
d.         Tahap format operasional (11 tahun keatas)
Pada tahap ini individu mengembangkan pikiran formalnya. Mereka bisa mencapai logika dan rasio. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan akibat yang lebih positif.

2.2 Hubungan Intelegensi dan Prestasi Belajar
Orang yang mempunyai intelegensi tinggi adalah orang yang memiliki dan dapat menggunakan intelegensi dan kognisinya dengan baik. Orang yang mempunyai intelegensi tinggi diharapkan memiliki cara berpikir yang logis, cepat, mempunyai kemampuan abstraksi  yang baik, mampu mendeteksi, menafsirkan, menyimpulkan, mengevaluasi dan mengingat, menyelesaikan masalah dengan baik, bertindak terarah sesuai dengan tujuan, dapat menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan yang baru, dsb.
 Apabila dikaitkan dengan prestasi belajar maka intelegensi merupakan salah satu factor yang menentukan dan menunjang prestasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hubungan yang sistematis antara intelegensi dan prestasi belum dapat dinyatakan secara konklusif atau pasti. Hal ini mengisaratkan bahwa pada situasi tertentu prestasi belajar ditentukan oleh intelegensi namun masih banyak factor lain yang ikut berperan.

2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
Secara umum ada dua factor yang mempengaruhi perkembangan intelek yaitu factor bawaan dan factor lingkungan.
a.         Factor bawaan (hereditas)
Sejak terjadinya konsepsi individu telah membawa gen-gen yang berasal dari ayah dan ibu. Sebagian dari gen tersebut memiliki sifat-sifat yang akan menentukan daya kerja intelektualnya. Jadi secara potensial individu telah membawa kemungkinan apakah ia akan mempunyai kemampuan normal, dibawah normal atau diatas normal. Potensi ini akan berkembang akan terwujud secara optimal apabila lingkungan memberikan kesempatan untuk berkembang.
b.         Factor lingkungan
1.         Lingkungan prenatal
Kondisi prenatal yang tidak baik dapat mengganggu perkembangan individu. Malnutrisi dan kekurangan gizi yang dialami ibu selama hamil dapat mengakibatkan kerusakan otak pada janin (Hurlock, 1996:41) yang selanjutnya dapat menyebabkan kesulitan belajar terutama dalam hal ketidakmampuan membaca.
2.         Lingkungan pasca kelahiran
a.         Keluarga
Sesudah lahir ke dunia, keluarga merupakan tempat pertama individu “mengenal dan mempelajari dunia”. Keluarga merupakan sumber pengalaman dan informasi. Disamping itu keluarga juga menjadi tumpuan anak untuk dapat memuaskan segala kebutuhan baik fisik maupun psikis. Gizi yang cukup sangat diperlukan untuk membantu perkembangan otak sehingga daya kerja intelektualnya akan maksimal.
b.         Sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal yang memberi tanggungjawab untuk meningkatkan perkembangan anak, termasuk perkembangan intelektualnya. Sarana dan prasarana pendidikan yang memadai merupakan kebutuhan yang vital bagi pengembangan intelektual siswa.
Hereditas dan lingkungan saling berinteraksi dalam mempengaruhi performansi. Dengan kata lain, hereditas menentukan apa yang dapat kita lakukan sedangkan lingkungan menentukan apa yang akan kita lakukan. Dengan demikian,perbedaan individu akan terjadi karena adanya variasi dari hereditas dan lingkungan.

2.4 Usaha-Usaha Untuk Membantu Mengembangkan Kemampuan Intelektual Anak Dalam Proses Pembelajaran
A.  Orangtua                   
Orangtua dapat berperan dalam mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui usaha-usaha sebagai berikit :
1.         Orangtua diharapkan memberikan stimulasi mental yang cukup
2.         Memberi dorongan, semangat, serta meningkatkan perasaan mampu anak

3.         Menyediakan sarana dan prasarana belajar yang memadai, menciptakan situasi rumah yang kondusif untuk belajar
4.         Member gizi yang cukup
B. Sekolah
1. menyediakan sarana dan prasarana atau fasilitas belajar mengajar yang memadai
2. Menerapkan system pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Termasuk didalamnya mempertimbangkan adanya perbedaan individual peserta didik.
3. Memberi kesempatan peserta didik untuk learning by doing ( belajar sambil mengerjakan) atau praktek nyata, tidak hanya diberi teori saja.
4. Menciptakan situasi belajar mengajar yang membuat peserta didik mempunyai kebebasan dan keaamanan psikologis.
C. Pemerintah
1. Adanya system pendidikan yang berkualitas dan relative stabil, karena system pendidikan yang berubah ubah akan berdampak tidak baik bagi pendidik maupun peserta didik dan bisa mengakibatkan underachiever ( monks. Dkk. 1999:234)

2. Menetapkan kurikulum yang tidak terlalu sarat muatan karena dapat menimbulkan akibat buruk bagi peserta didik, seperti stress, tak bergairah dan motivasi menurun.