Kelas Nusa

Kelas Nusa
Kelas Nusa : Kita Semua adalah Inspirasi
Showing posts with label Tulisan "Gak Jelas" Saya. Show all posts
Showing posts with label Tulisan "Gak Jelas" Saya. Show all posts

Friday, 19 September 2014

Bermain Menyederhanakan Pecahan


Bermain penyederhanaan pecahan dalam game ini serba cepat! Menyederhanakan pecahan merupakan keterampilan penting bagi setiap siswa matematika dari kelas lima dan seterusnya. Siswa perlu berlatih terus-menerus dengan penyederhanaan agar berhasil dapat menambah, mengurangi, mengalikan dan membagi pecahan. Mainkan game ini lagi dan lagi dan bekerja menuju menguasai konsep penting ini!

Apa yang Anda Butuhkan:

  • Deck kartu remi (dengan kartu wajah dihapus)
  • sejumlah pemain (berpasangan)
  • Kertas
  • Pensil

Apa yang Anda Lakukan:

  1. Buat tabel lembar pecahan  dengan menggambar garis di selembar kertas. 
  2. Mengatur permainan sehingga pemain menghadapi satu sama lain. Untuk setiap pasangan dua pemain, Anda harus membuat papan  permainan pecahan terpisah.
  3. Mengocok setumpuk kartu.
  4. Bagikan dek merata antara dua pemain.
  5. Apakah para pemain menempatkan deck mereka menghadap ke bawah di depan mereka.
  6. Pemain harus mulai dengan serentak membalik kartu dari deck mereka dan menempatkannya pada tabel lembar. Setiap pemain harus menempatkan satu kartu di atas lembar. Kartu di atas garis merupakan pembilang .
  7. Kemudian, pemain harus menempatkan satu kartu di bawah garis. Kartu bawah garis merupakan penyebut.
  8. Harus ada kartu di atas  dan kartu bawah garis, memberikan Anda empat kartu keseluruhan.
  9. Pemain pertama yang benar menyederhanakan pecahan  yang muncul dari kartu tersebut memenangkan semua empat kartu. Jika hasil seri, membagi kartu secara merata.
  10. Jika fraksi tidak bisa disederhanakan, setiap pemain harus mengumpulkan kartu yang pemain lain meletakkan dan posisi itu di bagian bawah dek.
  11. Putar terus sampai satu pemain telah mengumpulkan semua kartu.
  12. Atau, Anda bisa menetapkan batas waktu pada permainan. Ketika waktu sudah habis, pemain dengan kartu paling banyak, menang!

Sunday, 4 May 2014

didepan anak-anak, jangan banyak mengulang instruksi!

Why?
Kenapa?
Emang nanti gmn?
Apa iya?



Iyaaaaappp.
Didepan anak-anak, sewaktu kita memberikan instruksi atau dalam pengajaran di kelas kita jangan terlalu sering mengulang kata-kata yang kita ucakan.

Kenapa bisa begitu??

Hal ini dapat mengakibatan anak-anak justru kurang fokus kepada kita, kok bisa?
Jadi ketika kita sedang berbicara didepan anak-anak kalau kita sering mengulang instruksi yang kita ucapkan itu akan membuat mereka tidak fokus dengan apa yang sedang kita ucapkan karena mereka tahu bahwa instruksi tersebut akan diulang. Mereka akan berada pada fokus mereka dan mendengarkan apa yang kita instruksikan ketika mereka telah selesai dari bermain mereka yaitu mereka menunggu instruksi yang terakhir.

Nah, jadi bagaimana ya harusnya.
Buatlah sebuah permainan sebelum memulai kegiatan belajar, dari permainan tersebut buatlah anak-anak harus fokus terlebih dahulu. Anak-anak harus memfokuskan diri mereka karena jika mereka tidak fokus mereka akan terlewat dari permainan kita. Sekian

Mungkin penjelasan diatas kurang begitu jelas, tapi hal ini terjadi kepada kita. :D
Jika kalian punya tambahan, silahkan dikomen ya. 

Malas Membaca!

   


   Sungguh sebuah "kesayangan" jikalau Pendidikan hanya mengedepankan keberhasilan siswa dalam "test". Sekolah-sekolah hanya terfokus dengan bagaimana membuat angka kelulusan dapat meningkat. Kesalahan yang terjadi adalah Sekolah terlalu fokus dengan hasil dari test tersebut sehingga prosesnya terlupakan. 

     Siswa terus dituntut untuk mendapatkan hasil terbaik dalam setiap test, tapi mereka tidak pernah diperhatikan masalah membaca mereka. Padahal pengetahuan berasal dari membaca, sungguh sayang bisa terjadi demikian. 

     Kata-kata yang muncul dari siswa adalah " Saya malas membaca", kata-kata itu akan akrab dijumpai oleh para guru. Mungkin ini termasuk dosa besar para pendidik kita. Tapi ini adalah sebuah sistem, kesalahannya ada pada semua komponen pada sistem itu.

     Hal kecil yang dapat kita lakukan adalah kita ciptakan membaca rekreatif yang menyenangkan. Dalam situasi rumah misalnya janganlah melarang anak saat menonton TV. "Malam ini kamu tidak boleh menonton TV!" tapi cobalah "Kamu bisa menonton TV nanti setelah kamu selesai membaca Buku itu". Jangan sampai terjadi membaca karena terpaksa, membaca harus pada kondisi yang menyenangkan. Membaca untuk Relaksasi

Saturday, 7 December 2013

Yakinlah bahwa Pilihan-pilihan mu itu sudah benar, maksimalkan saja semua itu.


Hidup selalu dihadapkan dengan yang namanya pilihan. Manusia memang sudah diset untuk bisa berpikir menentukan pilihan yang benar untuk dirinya. Dalam menghadapi pilihan-pilihan yang ada pada hidupnya manusia mempunyai kemampuan mempertimbangkan segala sesuatu yang menjadi dampak dari keputusannya. Kata Aristoteles, ada dua keunggulan manusia yang disebut dengan human excellence (keunggulan pemikian) dan excellen of character (kehebatan dalam karakter).

Pilihan-pilihan hidup yang aka dihadapan kita seringkali itu sangat penting untuk masa depan kita dijaman yang akan datang. Namun tidak masalah apabila kita gagal dalam memilih karena itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. Kita tidak akan pernah tahu mana diantara pilihan yang kita hadapi tersebut yang hasilnya akan baik untuk kita karena kita tidak tahu seperti apa takdir kita dan yang bisa kita lakukan adalah menentukan jalan mana yang terbaik untuk kita, kemudian selebihnya kita kembalikan kepada Tuhan karena Tuhanlah yang mengetahui segalanya.
Dalam sela –sela hidup harus berdoa kepada Yang Kuasa, Ya Allah dekatkanlah selalu Hamba denganMu, ingatkan Hamba apabila lupa, Ya Allah semoga Hamba menjadi makhluk yang Engkau selalu sayang, selalu diberikan solusi-solusi untuk memecahkan segala permasalahan, selalu tepat dalam menentukan pilihan-pilihan, Berikan kekuatan itu ya Allah, Amin.
Pilihan yang benar berasal dari dasar hati nurani, jika kita mengenal diri kita seperti apa akan mudah bagi kita untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Lepaskan topeng-topeng kita berlakulah sebagai kita yang sebenarnya. Pilihan-pilihan hidup akan mudah kita tentukan, masalah-masalah hidup akan mudah kita cari solusinya karena kita mengenal diri kita, kita tahu seberapa kuat kemampuan kita.

Terimakasih,
Selalu berbuatlah baik kepada orang lain, jangan sampai ada sedikitpun omongan-omongan tidak baik tentang kita terucap dibelakang kita, buatlah yang sebaliknya.
Cerdas & Karakter

Sunday, 1 December 2013

Happy, Family, Smile at Work

     Menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengelola anggotanya. Kunci keberhasilan sebuah organisasi berada pada tangan seorang pemimpin yang menjadi panutan. Seorang pemimpin harus pandai dalam melihat potensi-potensi yang ada, dia harus yakin bahwa pada setiap diri anggotanya memiliki potensi yang bisa memajukan organisasi.
     Ada sebuah kasus ketika sebuah organisasi telah ada potensi-potensi yang bagus dari masing-masing anggotanya, namun seorang pemimpin gagal dalam mengelola asetnya tersebut yang terjadi adalah justru menjadi bumerang pada dirinya.
    Permasalahan yang sering muncul dalam Organisasi adalah loyalitas atau kesetiaan, kita sering jumpai sebuah organisasi kuat dan kompak ketika awal berjalan namun ketika ditengah-tengah perjalanannya ketika badai mulai menerpa kekuatan itu mulai runtuh satu persatu. Ketika dalam paruh perjalanan sebuah organisasi istilah “seleksi alam” mulai muncul. Mereka yang benar-benar loyal terhadap organisasi akan tetap terus memperjuangkan organisasi, sedangkan mereka yang tidak loyal mereka akan pindah atau bahkan membuat kubu-kubu tersendiri untuk menggulingkan kepemimpinan. Hal tersebut dapat terjadi karena keinginan mereka tidak dipenuhi oleh seorang pemimpin mereka memiliki kualitas namun pemimpin tidak mewadahinya.
   Kunci Keberhasilan Organisasi berada pada diri Pemimpinnya. Ketika seorang pemimpin mampu menyatukan segala potensi yang ada pada anggotanya maka itu akan menjadi kekuatan bagi sebuah organisasi untuk maju dan berkembang. Seorang pemimpin harus bisa menciptakan rasa senang bagi seluruh anggotanya, ketika mereka sudah senang mereka akan bekerja dengan optimal mengerahkan segala daya dan upaya mereka segala yang mereka miliki akan mereka kerahkan. Mereka melakukan hal itu karena mereka senang melakukannya dan tentunya mengharapkan keberhasilan.
Dalam sebuah organisasi jika kenyamanan itu ada maka rasa keharmonisasianpun akan tercipta, mereka senang bekerja bersama, mereka sangat antusias untuk memajukan organisasi bersama, persaingan yang ada adalah persaingan yang positif tidak menjatuhkan salah satu lawan.
Inti dari apa yang saya sampaikan adalah Kebahagiaan, Rasa Satu Keluarga sehingga dalam menjalani setiap tugas yang ada dalam Organisasi.

Terimakasih, sampai jumpa dengan cerita pengalaman saya yang selanjutnya.

Jadilah orang yang menyenangkan untuk orang lain, dengan begitu keberadaan kalian akan sangat dirasakan dan ketidakberadaannya kalian akan sangat dirindukan.


Bahrul Ulum Al Rasyid

@bahrulalrasyid

Tuesday, 30 July 2013

Jangan Malu jadi Mahasiswa PGSD!


Hallo Temann, kali ini saya akan membagikan tulisan yang luar biasa nih. Kenapa luar biasa? baca aja ya, pas banget kalau kalian sedang kuliah dijurusan PGSD apalagi kalau kalian baru masuk PGSD ini akan menambah motivasi kalian kuliah di PGSD. Bukan tulisan saya sendiri memang, tapi lebih banyak  persis seperti yang ada dibenak pikiran saya dan yang saya alami selama menjadi Mahasiswa PGSD, bukan maksud plagiasi cuma ingin membagikan sesuatu yang bermanfaat aja. Semoga berkenan. :D Keep Smile...hehehe

Dari : Kharissa Widya Kresna

      PGSD? Sering kali itulah yang ada dalam benak teman-teman kalau bicara tentang jurusan PGSD. Kenapa? Karena mindset teman-teman sudah terpatri bahwa PGSD nantinya hanya akan menjadi guru SD. Guru SD yang tiap harinya berkutat dengan anak-anak usia 7-12 tahun yang sangat badung. Guru SD yang gajinya sedikit. Guru SD yang harus berurusan dengan semua tetek bengek sekolah yang menyebalkan. Dimata sebagian besar rakyat Indonesia, guru SD adalah profesi yang tidak bergengsi.
     Namun semua mindset itu mulai goyah ketika ada isu dari pemerintah yang menyebutkan bahwa kesejahteraan guru SD akan sangat diperhatikan dimasa mendatang. Mulai-lah para orangtua berbondong-bondong menyuruh (baca: menyarankan) anaknya untuk mengambil jurusan ini. PGSD menjadi jurusan yang popular di masyarakat. Puluhan ribu fresh graduate dari SMA menyerbu jurusan ini. Sayangnya, yang tau hal-hal semacam ini juga hanya para pendahulu kita yang profesinya bersenggolan dengan dunia pendidikan. Dimasyarakat biasa, tetap saja profesi guru SD adalah suatu hal yang kurang membanggakan.
     Lebih lanjut, jurusan yang nantinya mencetak pendidik awal generasi penerus bangsa ini tetap saja ‘terpinggirkan’. Kenapa begitu? Karena dimata mahasiswa dari jurusan lain, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang kurang modis. Bahkan, pada beberapa universitas yang memisahkan kampus PGSD-nya dari kampus utama gap social ini semakin terasa. Setiap kali menjejakkan kaki di kampus utama, langkah mahasiswa PGSD diiringi tatapan aneh dari teman-teman diluar jurusan PGSD. Tentu tidak semua seperti itu. Ada juga yang menghargai perbedaan. Tapi untuk mahasiswa gaul diluar sana, PGSD bukan termasuk mahasiswa yang bisa disebut keren.
     Dari berbagai fenomena inilah, maka banyak sekali mahasiswa jurusan PGSD menjadi tidak bangga menjadi bagian jurusan mereka. Mereka mengambil jurusan ini hanya atas dorongan orangtua dengan mempertimbangkan gaji jika sudah menjadi PNS nanti. Itu juga tidak salah. Orangtua mana yang ingin menyesatkan anaknya?
Tapi kawan, PGSD sebenarnya bukan hanya jurusan pendidikan guru, tetapi juga sekolah kepribadian. Kenapa begitu? Karena ketika kita menapakkan kaki di PGSD, untuk 4 tahun mendatang kita akan digodog menjadi pribadi yang santun dan bermasyarakat. Mahasiswa PGSD lebih bisa melihat situasi masyarakat yang ada. Karena mereka memang nantinya kembali pada masyarakat lapisan menengah kebawah. Karena mahasiswa PGSD nantinya berjuang ditengah-tengah dinamika masyarakat yang hingga saat ini aspirasinya belum tersalurkan. Dan yang lebih penting, mahasiswa PGSD menjadi tonggak perbaikan bangsa karena mereka-lah yang menyiapkan generasi muda penerus negara ini.
     Karena tugasnya yang berat inilah, mahasiswa PGSD digembleng dengan berbagai kegiatan yang membentuk karakter mereka. Mulai dari rangkaian kegiatan kepramukaan yang melelahkan, sampai pada kegiatan perkuliahan yang mengharuskan mereka berlatih berbicara di depan orang banyak, termasuk berlatih memanagemen banyak orang didalam satu ruangan. Hal-hal seperti inilah yang baik disadari atau tidak juga membentuk karakter mereka. Secara tidak langsung, mereka telah mempersiapkan diri mereka sekaligus membangun kembali karakter manusia Indonesia yang seutuhnya. PGSD yang notabene ‘terpinggirkan’ justru adalah salah satu elemen penting pembangun bangsa.
     Alasan lain adalah, kuliah di PGSD secara tidak langsung mendidik kita baik dari cara berpakaian, cara bicara, hingga cara bergaul dalam masyarakat maupun sesama teman. Kita tanpa sadar telah terbiasa berpenampilan dan bergaul di masyarakat sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat dan juga dosen-dosen dari jurusan lain bahkan mengakui bahwa ketika mahasiswa diterjunkan dalam masyarakat, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang lebih mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
     Mahasiswa PGSD adalah seorang generalis, terspesialisasi dalam kemahirannya di salah satu bidang, misalnya tari, music, karya ilmiah, penelitian, cabang olahraga, dan bidang lainnya. Sehingga modal jurusan ini untuk bisa berkembang sangat mumpuni. Keuntungan mahasiswa PGSD yang generalis sudah teraih,  dan masih pula mendapat fasilitas untuk mendalami spesifikasi tertentu. Jika seorang generalis ‘banyak tahu’ dalam artian mengerti banyak hal tapi dangkal, seorang spesialis ‘tahu banyak’ dalam artian sedikit hal tetapi dalam. So, tugas mahasiswa PGSD yaitu menjadi ‘GEN SPESIAL’. Mengerti banyak hal dan dalam. (Siron, 2012)
Jadi? Jangan malu jadi mahasiswa PGSD!

Saturday, 29 June 2013

Kita semua adalah bagian dari Generasi Millenial "The me, me, me Generation"!!

Halo Semuanya.. Selamat datang dan terimakasih atas kunjungannya di blog saya. Jika Kalian berkenan dengan tulisan ini, silahkan kalian bisa "like" atau "share/kirim" ke teman kalian yang lain. Semoga tulisan yang saya posting kali ini dapat bermanfaat untuk kalian semua.


Dikutip dari : Kaskus
Dalam artikel sepanjang enam halaman garapan sosialis Joel Stein itu dituangkan banyak fakta yang menjelaskan mengapa orang muda yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, bisa jadi masalah sekaligus “dinamika baru” bagi perkembangan dunia. Golongan generasi ini disebut sebagai millenial.

Dijelaskan, karakter generasi millenial yang paling nampak adalah malas, narsistis dan penuh gengsi, dan cenderung tidak mandiri. Setelah baca rampung artikel ini, saya berpikir bahwa Indonesia punya semua karakter generasi millenial. Stein menggarisbawahi kesimpulan bahwa dengan segala macam sifat kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri, abai terhadap informasi-informasi signifikan dan terlalu banyak mengumbar hal-hal yang tidak relevan di internet, generasi millenial akan jadi penanda baru dalam sejarah peradaban. “Millenial tidak mencoba mengambil alih perbaikan dan pengembangan kehidupan, mereka bertumbuh sendiri tanpa perkembangan itu,” tulis Stein.

bagian ke-2


Saya mudah sekali melihat diri saya sendiri di cermin sebagai bagian dari generasi millenial dengan beberapa karakter yang masuk akal. Saya punya Twitter, pernah aktif di Facebook, menggemari fitur obrolan dan berbagi foto, sering mengeluh, malas untuk hal-hal yang sebenarnya baik, dan sangat berat untuk tidak mengikuti tren pakaian ataupun pemilihan gadget. Saya bahkan (di beberapa kasus) tidak tahu mengapa sebetulnya saya memiliki barang ini dan barang itu. Saya menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang tidak saya perlukan.

Akan tetapi saya tidak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Pendapat yang membanding-bandingkan “generasi millenial” dengan generasi Oprah Winfrey, Jennifer Lopez hingga Agnes Monica di Indonesia menurut saya hanya sebuah tolok ukur untuk melihat sejauh mana peradaban (dengan revolusi arus informasinya) membentuk kecenderungan sosial kaum muda.

Saya masih senang menikmati jalan-jalan di kawasan Malioboro Yogyakarta di sore hari, saat orang-orang berkumpul di titik-titik keramaian. Memang narsisitas adalah hal yang paling kelihatan, jika saya mengingat masa kecil saya ketika kamera digital masih menjadi visi. Saya memang merindukan masa-masa saat teman-teman jalan-jalan menggenggam keranjang berisi jajanan untuk dijual dan bukannya ponsel berkamera. Di Yogyakarta, sebagai kota dinamis yang lebih dari separuh aktivitasnya melibatkan kaum muda, saya mudah saja menyimpulkan bahwa generasi 1990-an Indonesia membenarkan semua teori di atas.

Bagian ke-3


Generasi “aku aku aku” Indonesia terbentuk karena persaingan global yang dipersenjatai kemajuan teknologi informasi. Jumlah kelas tengah Indonesia yang kini menyentuh angka 135 juta jiwa membentuk pencitraan baru bagi kaum muda di lingkungan sosial.

Mei lalu saya berbicara dengan Dr. Neila Ramdhani, dosen Psikologi UGM yang terlibat dalam riset pengaruh internet terhadap anak dan remaja. Ia berpendapat bahwa kecenderungan remaja saat ini mengikuti perkembangan teknologi, bukan didasari pada pengertian mereka terhadap dinamika informasi apalagi kemajuan teknologi itu sendiri. Saat seorang remaja SMA membeli iPhone, itu adalah karena dorongan eksternal, dan bukan pemahamannya sendiri terhadap perangkat yang digunakan. “Gadget di zaman sekarang bisa menjadi alat tawar yang kuat untuk mendapatkan posisi sosial,” jelasnya.

Seseorang dari kalangan bawah bahkan bisa merasa menjadi bagian dari kelas tengah bahkan atas ketika mereka memakai semua alat tawar yang dimaksud: pakaian, dandanan, kendaraan, ponsel, dsb. Walaupun itu berpura-pura. Bentuk pencitraan yang tidak terkontrol penuh membawa pada publisitas yang tidak seimbang.

Generasi “aku aku aku” dinilai sebagai pemalas dan sangat bergantung, cenderung tidak mandiri apalagi independen. Gemar memperlihatkan kemewahan yang bukan hasil kerja keras mereka alias pemberian orang tua. Mendambakan hasil tapi kurang menghargai proses. Mereka senang orang-orang mengetahui apa yang mereka lakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi karena menganggap Twitter memberi kesempatan untuk itu. Sekelompok mahasiswa yang baru lulus mencari pekerjaan di sana sini atau mengikuti Job Fair dan sebagian dari mereka tidak tahu apa yang benar-benar mereka inginkan untuk perbaikan hidup. Pengalaman harian mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu menonton reality show komedi percintaan di televisi atau membaca buku-buku hiburan menjadi pengalihan yang kuat dari pilihan hidup yang seharusnya sudah bisa ditentukan sejak usia 20.

Generasi sekarang abai terhadap hal-hal yang di luar minat mereka, atau di luar tren yang mereka ikuti. Generasi ini selalu mendambakan karir cemerlang di perusahaan besar setelah wisuda tetapi mereka kebingungan saat ditanya “apa yang bisa kau lakukan untuk membuat perubahan?” Saat mendapatkan karir baik, mereka tetap memoles diri karena mempercayai bahwa jenis pekerjaan masa kini masih terpisah-pisah dalam kasta.


Bagian Ke-4


Pe-de vs. narsisitas

Sekitar tahun 1970-an para ilmuwan dunia mempelajari pengarauh pengembangan kepercayaan diri bagi anak, yang di Amerika kemudian dikenal sebagai self-esteem, tingkat keempat dari lima tingkatan di teori Piramida Maslow. Kepercayaan diri atau yang di Indonesia sering disebut pe-de benar-benar jadi barang penting untuk diperkenalkan sebagai karakter moral seorang anak sejak lahir. Hanya saja dalam perkembangannya, kepercayaan diri ini menjelma menjadi tak terkendali.

Generasi millenial sering kali mengaku kepercayaan diri mereka terbentuk utuh, akan tetapi sulit membedakan pede dengan narsistis. Percaya diri bukanlah memfoto diri sendiri di depan cermin kamar mandi mal ataupun memasang foto di layar ponsel. Percaya diri bukanlah tampil gaya penuh warna di forum publik yang dihadiri oleh orang-orang penting dan terdidik. Kecenderungan keliru mengartikan narsistis sebagai percaya diri akan terlihat lucu, karena orang-orang dari generasi sebelum kita ini akan menemukan sebuah fenomena “transisi teori” yang mengejutkan. Pemaknaan terhadap “kepercayaan diri” justru hilang saat anak-anak muda dengan penampilan necis diminta berpidato di forum publik, kemudian terbata-bata.

Perhatikan saja. Banyak anak muda, dari remaja hingga usia 30, terlihat ingin tampil di publik secara visual. Mereka ingin jadi pusat perhatian akan tetapi enggan terlibat dalam publisitas nyata. Suka diperhatikan tapi tidak menunjukkan kepedulian. Narsisitas membawa sekelompok orang ceria dan warna-warni bergabung dengan kelompok lain yang punya kecenderungan dandanan sama, atau selera obrolan yang sama. Uniknya, tingkat kesetiaan dalam kelompok narsistis ternyata besar dan relatif tak bisa disaingi, sebagaimana diuraikan dalam buku Akar Kekerasan - Analisis Sosio-Psikologis atas Watak Manusia tulisan Erich Fromm. Lingkungan sosial jalanan memberi cap “gaul” tapi tidak mengakui keterlibatan anak-anak muda ini dalam fungsi lingkungan yang sebenarnya.


Bagian Ke-5


Beruntungnya, kecenderungan kelompok muda Millenial untuk berkelompok dan bergaul lebih luas memberi harapan bagi penyelesaian masalah-masalah sosial lainnya. Walaupun tingkat abai masyarakat meningkat, kelompok generasi “aku” tetap mempercayai bahwa mereka bisa melakukan sesuatu saat mereka hidup serius setelah usia 30. Ungkapan “bagaimana nantinya saja” kiranya akan menyelamatkan pembangunan bangsa yang nantinya akan dilakoni oleh muda-mudi yang saat ini masih bergaul ke sana ke mari. Bukti bahwa saat ini banyak instansi pemerintah memanfaatkan aktivitas kaum muda guna menuntaskan program-program berkelanjutan menjadi gejala yang menjanjikan. Tetap ada banyak ruang bagi muda-mudi yang mau berpikir relevan dan memiliki visi bagi pembangunan.

Generasi “aku aku aku” ala Millenial lahir setelah generasi yang di Amerika disebut sebagai Generasi X. Pendiri Facebook Mark Zuckerburg dan megabintang Lady Gaga jadi penanda penting bagi Millenial dunia, mengakhiri kejayaan generasi sebelumnya ala Warren Buffet dan Jennifer Lopez. Akan tetapi di Indonesia, tampaknya perubahan kejayaan antar-generasi ini belum akan terjadi dalam waktu yang dekat. Generasi X Indonesia setingkat aktris senior Jajang C. Noer, menteri perdagangan Gita Wirjawan atau sejarawan J.J. Rizal masih akan dipertahankan guna menyelamatkan peradaban bangsa. Jujur saja itu masuk akal, karena generasi Millenial kita masih belum muncul ke permukaan.

Kita sebenarnya tidak bisa menelan secara mentah-mentah tulisan diatas. Tetap kita harus menyaringnya mana yang baik dan buruk. Mungkin yang diungkapkan pada tulisan diatas terlalu memandang negatif kehidupan jejaring sosial, tetapi kalau menurut saya pribadi asalkan digunakan dengan positif itu bisa juga memberikan dampak positif juga untuk kehidupan.

Mungkin itu saja sedikit yang bisa tambahkan, kalau anda berkenan utnuk menambahkan silahkan bisa menambahkan dikolom komentar dibawah. Jangan Lupa "like" ataupun "share" ya.

Thursday, 27 June 2013

Akhirnya Harga BBM naik juga

Halo Semuanya..
Terimakasih sudah mampir ke blog saya ya.

Alhamdulilah ditengah kesibukan saya Kuliah dan mengurus Organisasi. Saya masih bisa menyempatkan diri untuk menulis. Tulisan ini sederhana memang, bukan tulisan yang dapat menggebrak orang, tapi mudah mudahan bisa memberikan manfaat. Sebelumnya mohon maaf kalau yang saya tuliskan disini mungkin kurang berkenan.

Kali ini saya menuliskan soal Kenaikan Harga BBM nih. Alhamdulilah setelah sekian lama maju mundur akhirnya bulan Juni ini  pemerintah menaikkan harga BBM juga, tepatny seminggu yang lalu yaitu tanggal 20 Juni 2013. 



Ini yang saya kutip di >> www.kemenperin.go.id
"Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak terelakan pada 2013. Situasi ekonomi dunia yang belum menentu dan kebutuhan pembangunan infrastruktur dalam negeri perlu direspon dengan penurunan biaya subsidi BBM.
Untuk mendorong akselerasi pembangunan infrastruktur dan sejumlah sektor vital di Tanah Air, harga BBM bersubsidi sebaiknya dinaikkan hingga mendekati harga pasar. Kompensasi kenaikan harga BBM bag! rakyat miskin dan hampir miskin bisa diberikan secara langsung berupa bahan pangan dan bantuan lainnya.

"Kalau harga BBM tetap disubsidi seperti sekarang, pembangunan infrastruktur dan sektor vital akan terus tertinggal, anggaran negara terbebani, dan rakyat akan hidup tidak realistis," ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto kepada Investor Daily di Vladivostok, Rusia, Senin (10/9)"



Memang betul sulit bagi kita untuk menghindari naiknya harga BBM. Ibaratnya kita tidak punya pilihan, pilihan satu-satunya adalah menaikkan harga BBM. Kalau Keputusan sudah diambil, kita sebagi warga negara yang baik kita harus menerima dan melaksanakannya. Kita yakin saja bahwa Keputusan yang diambil para dewan di kursi kepemimpinan pastilah mempertimbangkan berbagai macam pertimbangan. Tinggal yang harus kita lakukan adalah kita harus SURVIVE! ya betul sekali kita harus menjadi bangsa yang SURVIVE!!.. 
Menolak Kenaikan BBM dengan alasan pemerintah gak Becus mengelola negara itu sangat tidak Dewasa, apalagi menolak kenaikan BBM demi kepentingan politik, membunuh citra pemerintah itu adalah politiknya anak Kecil. Bangsa kita harus Dewasa. 

"Rakyat yang baik adalah yang menjalankan perannya dalam kehidupan bernegara seperti selayaknya seorang Presiden dan juga sebailknya"

Kita sebagai Rakyat, apa yang harus kita lakukan??. Kita budayakan Naik Transportasi Umum Kurangi Kendaraan Pribadi, sebagai Pemerintah apa yang harus dilakukan??.. Benahi Infrastruktur Transportasi Umum. 



"Dengan Kenaikan BBM kita turunkan angka kemacetan, turunkan emisi, turunkan polusi"

Mungkin itu satu contoh sederhananya yang bisa kita lakukan sebagai Rakyat.. sebagai Bangsa Indonesia.

 Kalau contoh gak sederhanannya ya mungkin saja kita akan menciptakan sebuah energi alternatif bahan bakar minyak yang lebih ramah lingkungan dan bisa diperbaharukan mungkin. Menciptakan Mobil Listrik. Memang tidak sederhana, tapi kalau kita semua mau kita BISA lah membuatnya itu gampang. hehehe :D

Demikian tulisan saya ini, sekali mohon maaf apabila kurang berkenan. Mari kita berdoa bersama agar kenaikan BBM bisa memberikan Perubahan bagi Indonesia menjadi Lebih Baik!


Saturday, 11 May 2013

Telur dan Ayam Duluan Mana Ya?? : Ini jawabanya






              “Telur dan Ayam duluan mana?” Sebuah pertanyaan yang mengusik rasa penasaran kita. Kalau orang bilang lebih dahulu telur. Lalu darimana telur itu berasal kalau bukan dari ayam? Kalau dibilang lebih dulu ayam, bukankah ayam bermula dari sebuah telur?
                Hal ini dinamakan Paradoks, Sesuatu yang mengandung kebenaran, namun jika dipikir lebih lanjut akan berakhir membingungkan. Paradoks yang ada bukan hanya telur dan ayam. Contoh paradoks lain adalah paradoks pembohong. Seorang penduduk Pekalongan mengatakan, “Semua penduduk Pekalongan adalah pembohong”. Sekilas perkataan tadi nampak benar adanya. Namun, jika coba kita urai maka terlihatlah kerumitanya.
                Premis pertama, jika seluruh penduduk Pekalongan pembohong maka dia juga sedang berbohong. Premis kedua, jika dia tidak sedang berbohong maka tidak semua penduduk Pekalongan pembohong. Bingung kan sekarang?? Coba deh dipahami lagi. Inilah yang dinamakan Paradoks.
                Bicara tentang paradoks telur dan ayam, Saya jadi ingin mengutarakan suatu hal. Kehidupan kita yang sekarang ini dipenuhi oleh orang-orang yang orientasinya hanya pada hidup didunia. Ada tipe orang yang ketika hidup didunia beranggapan carilah dunia, akhirat itu gampang didapat. Hidup ini hanya sekali, kita harus menikmatinya. Dan lain sebagainya, meski beda ungkapan namun intinya sama mereka akan mengejar segala kepuasan yang ada didunia akhiratnya mereka pikirkan belakangan.
                Dunia sebenarnya hanyalah “batu loncatan” untuk menggapai akhirat yang badi. Tapi sayang, banyak orang justru terlena dengan dengan keindahan dunia dan pesonanya yang menggoda. Larut dalam kesenangan dan permainan dunia yang melalaikan.
                “Dan tidaklah kehidupan didunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya, akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut: 64)
                Visi Agamis diatas haruslah dimilki oleh seorang mukmin, sebelum dia memilki dunia. Jika tidak punya visi tersebut, tak heran jika kekayaan dunianya yang banyak malah membantunya untuk berbuat kemungkaran kepada Allah.
                Banyak orang terpukau lena dunia dan mengesampingkan masalah agama karena gagal paham terhadap visi itu. Semoga kita semua tergolong orang yang dicintai oleh Allah dengan diberikan kepahaman Agama yang baik sebelum mendapatkan dunia. Amin

Saturday, 4 May 2013

Meneladani Gaya Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW


MODEL KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW

Assalamualaikum Wr.Wb
Nabi Muhammad bin Abdullah saw adalah nabi terakhir. Lahir pada tahun 570 M di Mekkah. Diutus menjadi nabi ketika berusia empat puluh tahun. Selama tiga belas tahun Nabi saw berdakwah Islam di Mekah. Kemudian Nabi saw hijrah ke Madinah. Di Madinah Nabi saw mendirikan sentranya. Selama sepuluh tahun Nabi saw terang-terangan berdakwah Islam di Madinah. Pada akhir periode ini seluruh jazirah Arab memeluk Islam. Al-Qur'an Suci diwahyukan kepadanya secara bertahap dalam waktu dua puluh tiga tahun. Kaum Muslim memperlihatkan dedikasi yang luar biasa dan takzim kepada Al-Qur'an dan kepada pribadi Nabi Muhammad saw.


Ada dua hal yang memberi masyarakat yang baru lahir ini semangat antusiasme dan persatuan: Pertama, Al-Qur'an yang menyemangati kaum Muslim, yang senantiasa dibaca oleh kaum Muslim. Kedua, pribadi mulia dan berpengaruh Nabi saw yang sangat memesona kaum Muslim.


Nabi saw wafat pada tahun 11 H pada tahun ke-23 misi kenabiannya dalam usia enam puluh tiga tahun. Nabi saw meninggalkan suatu masyarakat yang belum lama lahir, suatu masyarakat yang penuh dengan semangat spiritual, suatu masyarakat yang mempercayai suatu ideologi yang konstruktif dan yang menyadari tanggung jawabnya di dunia.

Beberapa hal yang diterapkan nabi Muhammad sebagai pemimpin dalam kehidupannya sehari-hari, yaitu:

 Perilaku Sosial Yang Baik
Dalam kehidupan di tengah masyarakat, Nabi saw selalu baik hati, riang dan sopan terhadap semua orang. Nabi saw selalu yang lebih duluan memberikan salam, sekalipun kepada anak-anak dan para sahaya. Nabi saw tak pernah meregangkan kakinya di hadapan orang, dan tak pernah berbaring di hadapan orang. Kalau tengah bersama Nabi saw, semua orang duduk mengelilingi Nabi saw. Tak ada yang punya tempat khusus. Nabi saw selalu memperhatikan sahabat-sahabatnya. Kalau Nabi saw tak melihat siapa pun di antara sahabat-sahabatnya itu selama dua atau tiga hari, Nabi saw menanyakannya. Jika ternyata sahabat itu sakit, Nabi saw menjenguknya. Dan jika sahabat itu mendapat kesulitan, Nabi saw berupaya memecahkan problemnya.

 Lembut Namun Tegas
Dalam masalah pribadi, Nabi saw lembut, simpatik dan toleran. Pada banyak peristiwa sejarah, toleransi Nabi saw merupakan salah satu alasan kenapa Nabi saw sukses. Namun dalam masalah prinsip ketika mengenai masalah kepentingan masyarakat atau hukum, Nabi saw tegas dan tak pernah memperlihatkan sikap toleran.

 Hidup Sederhana
Hidup sederhana merupakan salah satu prinsip hidup Nabi saw. Nabi saw biasa mengatakan: “Sungguh menyenangkan kekayaan itu, jika didapat dengan cara yang halal oleh orang yang tahu cara membelanjakannya”. Nabi saw juga mengatakan: “Kekayaan merupakan bantuan yang baik bagi ketakwaan”

 Ketetapan Hati dan Sabar
Tekad atau kemauan keras Nabi saw sungguh luar biasa. Tekad ini mempengaruhi para sahabatnya juga. Dalam masa hidupnya, beberapa kali kondisi sedemikian rupa sehingga kelihatannya tak ada lagi harapan, namun tak pernah ada kata gagal dalam benaknya.

 Kepemimpinan, Administrasi dan Konsultasi
Sekalipun para sahabat Nabi saw menjalankan setiap perintah Nabi saw tanpa ragu, dan berulang-ulang mengatakan percaya penuh kepada Nabi saw dan bahkan mau terjun ke sungai atau ke dalam kobaran api jika saja Nabi saw memerintahkannya, Sahabat-sahabat¬nya dan konsultasi dengan mereka yang dipandangnya penting, merupakan faktor-faktor utama yang memberikan sumbangsih bagi pengaruhnya yang luar biasa di kalangan para sahabatnya. Fakta ini ditunjukkan oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an memfirmankan:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan din dari sekelitingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. (QS. Âli 'Imrân: 159)

 Teratur dan Tertib
Semua tindakan Nabi saw teratur dan tertib. Nabi saw bekerja sesuai dengan jadwal. Nabi saw mengajak para sahabatnya untuk berbuat sama. Berkat pengaruh Nabi saw, para sahabat jadi penuh disiplin.

 Mau Mendengarkan Kritik dan Tak Suka Pujian yang Bersifat Menjilat
Nabi saw suka bekerja sempurna. Nabi saw biasa mengerjakan sesuatu dengan benar dan efisien Terkadang Nabi saw terpaksa menghadapi kritik para sahabat. Namun tanpa bersikap keras terhadap mereka, Nabi saw menjelas-kan keputusannya, dan para sahabat pun akhimya mau menerima. Nabi saw membenci sekali pujian yang bersifat menjilat. Nabi saw mengatakan: “Lemparkan debu ke wajah orang yang menjilat”.

 Memerangi Kelemahan
Nabi saw tidak mengeksploitasi titik lemah dan kebodohan orang. Nabi saw justru berupaya memperbaiki kelemahan orang dan membuat orang mengetahui apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Pada hari meninggalnya putra Nabi saw yang berusia tujuh belas bulan, kebetulan terjadi gerhana matahari. Orang pada mengatakan bahwa gerhana tersebut terjadi karena duka cita yang merundung Nabi saw. Nabi saw tidak tinggal diam menghadapi pikiran yang keliru ini. Nabi saw kemudian naik ke mimbar dan mengatakan: "Wahai manusia! Bulan dan matahari adalah dua tanda dari Allah. Terjadinya gerhana keduanya bukan karena kematian seseorang."

 Memiliki Kualitas Sebagai Pemimpin
Nabi saw memiliki kualitas maksimum kepemimpinan seperti sifat mau tahu orang, teguh had, efisien, berani, tak takut meng¬hadapi konsekuensi suatu tindakan, mampu melihat ke depan, mampu menghadapi kritik, mengakui kemampuan orang lain, mendelegasikan kekuasaan kepada orang lain yang mampu, luwes dalam masalah pribadinya, keras dalam masalah prinsip, memandang penting orang lain, memajukan bakat intelektual, emosional dan praktis mereka, menjauhkan diri dari praktik lalim, tidak meminta ketaatan buta, bersahaja dan rendah hati, bermartabat dan sangat memperhatikan pengelolaan sumber daya manusia. Nabi saw sering mengatakan: “Jika kamu bertiga mengadakan perjalanan bersama, maka pilih salah satu dari kalian sebagai pemimpin”.

Dalam konteks kepemimpinan, Nabi mengembangkan kepemimpinan moral dalam kehidupan politiknya. Ini merupakan respons yang sangat tepat dalam menghadapi struktur masyarakat pra-Islam yang feodalistik dan represif, karena yang ditekankan adalah aspek moralitas (akhlaq al-karimah). Oleh karena itu, politik pada zaman Nabi berfungsi sebagai kendaraan moral yang efektif.

Nabi Muhammad dengan spirit religiusitas dan moralitasnya berhasil membangun sebuah komunitas yang beradab di Madinah. Bersama semua unsur penduduk Madinah, Nabi meletakkan dasar-dasar peradaban (madaniyyah) dengan membuat sebuah perjanjian (Piagam Madinah) yang mengatur mengenai kehidupan beragama, ekonomi, sosial, dan politik. Dalam hal ini, ikatan keadaban (bond of civility) ditegakkan oleh semangat universal ketuhanan untuk menegakkan sistem hukum yang adil dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Moralitas menjadi kunci penting dalam kepemimpinan yang dikembangkan oleh Nabi. Berdasarkan bukti-bukti historis, moralitas menjadi titik poros bagi pengembangan kehidupan bersama yang mampu menciptakan kesejahteraan. Oleh karena itu, jika mengharapkan bangsa Indonesia mampu keluar dari krisis menuju ke arah kehidupan yang menyejahterakan, kepemimpinan yang berlandaskan kepada moralitas merupakan sebuah kebutuhan mutlak. Sebaliknya, pemimpin yang tidak mempertimbangkan moralitas hanyalah akan mengantarkan negara ke arah kehancuran.

Karakteristik kepemimpinan Rasulullah saw. adalah, kejujuran yang teruji dan terbukti. Kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas) sebagai seorang pemimpin. Di samping itu, beliau juga cakap dan cerdas, inovatif dan berwawasan ke depan, tegas tapi rendah hati, pemberani tapi bersahaja, kuat fisik dan tahan penderitaan.

Pola kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw., dapat dijadikan rujukan yang utama dalam kehidupan umat manusia, terutama bagi yang beriman dan bertakwa, serta selalu berzikir kepada Allah SWT. Hal ini sejalan sebagaimana diungkap Allah dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 21, yang berbunyi :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)

Artinya: “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagi kamu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir dan dia banyak menyebut nama Allah”.

Kalau kalian suka dengan tulisan ini jangan lupa share ke temen temen ya supaya yang lain juga mendapatkan ilmunya, dan juga terus kunjungi kami di www.sekolahdasarnusa.blogspot.com

Terimakasih 
Wassalamualaikum Wr Wb


Thursday, 2 May 2013

Sebentar Lagi Indonesia akan Kembali Jaya


Siklus 7 Abad Kejayaan INDONESIA
   
Bangsa kita telah mengalami kejayaan di abad ke-7 dan abad ke-14. Apakah kita akan mengalami siklus kejayaan 7 abad?
   
Saya rasa siklus 7 abad  kejayaan Indonesia itu akan menjadi kenyataan kembali di abad kita ini, abad ke-21. antara tahun 2000-2099. Tanda-tanda kebangkitan Indonesia abad ke-21 sudah mulai kelihatan.
   
Baru-baru ini lembaga riset bisnis dan ekonomi yang sangat terpandang di dunia, The McKinsey Global Institute, menerbitkan laporannya berjudul “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential” yang menunjukkan dengan jelas kecenderungan kejayaan Indonesia di bidang ekonomi.
   
Dalam laporan itu McKinsey memperkirakan pada tahun 2030 Indonesia akan menempati peringkat ke-7 ekonomi terbesar dunia, sesudah Cina, AS, India, Jepang, Brazil, Rusia. Kini Indonesia menempati peringkat ke-16 ekonomi terbesar dunia sesudah AS, Cina, Jepang, Jerman, Prancis, Brazil, Inggris, Italia, Rusia, Kanada, India, Spanyol, Australia, Mexico dan korea Selatan. Mckinsey memperkirakan kelas konsumen Indonesia akan meningkat dari sekarang 45 juta orang menjadi 135 juta orang pada tahun 2030 dan pekerja yang berpendidikan meningkat dari 55 juta orang sekarang ini menjadi 113 juta orang (2030).
   
Laporan yang dikeluarkan oleh lembaga yang sangat bergengsi dengan terkenal cermat itu tentulah sangat membesarkan hati kita.
   
Menjelang akhir September ybl, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dianugerahi penghargaan penting di New York yaitu “The 21st Century Economic Achievement Awards” dari US-ASEAN Business Council serta “The Environment Leadership Award” dari The Nature Conservancy, WWF dan WRI. Penghargaan ini juga merupakan pengakuan internasional terhadap kemajuan Indonesia yang sejalan dengan kecenderungan siklus 7 abad itu.
   
Sebelumnya kita juga telah mendapatkan pengakuan serta perkiraan sejenis dari lembaga-lembaga lain.
   
Kita ketahui bersama pada masa sekarang ini kita menjadi anggota dari G-20 yakni kelompok ekonomi utama dunia yang hanya terdiri dari 19 negara (Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Britania Raya, Cina, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Turki) ditambah dengan Uni Eropa.
   
Beberapa waktu yang lalu John O’Neill (penggagas konsep BRIC – Brazil, Rusia, India dan Cina) dalam jurnal Goldman Sachs mengusulkan konsep baru untuk menggantikan BRIC yaitu konsep MIST (Mexico, Indonesia, South Korea and Turky).
   
Kita sendiri dapat melihat dengan nyata perkembangan ekonomi kita terutama sejak 2004 yang cenderung meningkat.
   
Menurut saya semua itu adalah tanda-tanda nyata menuju kebangkitan Indonesia di abad ke-21 ini. Kejayaan itu akan terjadi di abad sekarang, paling lambat di masa  cucu kita,  di kisaran tahun 2030-2045 (menjelang seratus tahun kemerdekaan Republik Indonesia).
   
Hal ini tentu dapat meningkatkan sikap optimis kita, suatu sikap yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa.

Apa Yang Perlu Diwaspadai
   
Kita dapat belajar dari sejarah. Majapahit menjelang kejayaannya menghadapi gangguan berupa perpecahan, hilangnya persatuan. Kita ketahui pada masa itu terjadi perpecahan yang diakibatkan perpecahan di antara para penganut dua agama besar ketika itu (Buddha dan Hindu).

Menghadapi perpecahan itu  seorang budayawan terkemuka ketika itu yakni Mpu Tantular mengingatkan masyarakat melalui karya sastranya yang terkenal, “Kakawin Sutasoma”. Dalam “Kakawin Sutasoma” itu dimuat ajaran “Bhinneka Tunggal Ika. Tan Hana Dharma Mangrwa”. Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) oleh para pendiri republik telah dijadikan semboyan negara kita. Semboyan itu tertera pada pita Burung Garuda Pancasila yang men-cengkeramnya kuat-kuat agar tidak terlepas. Tan Hana Dharma Mangrwa (tidak ada kebenaran yang mendua) telah dijadikan sasanti Lemhanas.

Kini pun gejala perpecahan itu, termasuk perpecahan di antara penganut agama-agama, harus terus-menerus kita waspadai agar jangan sampai menghalangi kita mencapai kejayaan.

Sila Persatuan Indonesia, sebagaimana sila-sila lainnya dari Pancasila, selalu aktual sepanjang abad. Mari kita pelihara persatuan itu dengan meningkatkan semangat toleransi kita akan kemajemukan. Mari kita cengkeram kuat-kuat pita Bhinneka Tunggal Ika untuk membawa kita kepada kebangkitan Indonesia di abad ke-21 seraya memenuhi panggilan sejarah akan kebenaran siklus tujuh abad zaman keemasan Nusantara.