Kelas Nusa

Kelas Nusa
Kelas Nusa : Kita Semua adalah Inspirasi

Tuesday, 16 July 2013

Prinsip Prinsip Manajemen Kelas

Kegiatan guru di dalam kelas meliputi dua hal pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan manajerial (Depdikbud, 1983 : 9; Entang dan Raka Joni, 1983). Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan peserta didik mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Kegiatan mengajar antara lain seperti menelaah kebutuhan peserta didik, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan, mengajukan pertanyaan, dan menilai kemajuan siswa. Kegiatan manajerial kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan belajar-mengajar dapat berlangsung secara berkelanjtan. Kegiatan manajerial antara lain seperti mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan peserta didik, memmberikan ganjaran dengan segera, mengembangkan aturan main dalam kegiatan kelompok, penghentian tingkah laku peseerta didik yang menyimpang atau tidak sesuai dengan tata tertib. Dengan demikian, dalam proses belajar mengajar di sekolah dapat dibedakan adanya dua kelompok masalah yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen kelas.
Banyak guru yang kurang mampu membedakan masalah pengajaran dan masalah manajemen kelas, sehingga pemecahannya pun menjadi kurang tepat. Masalah manajemen kelas harus ditanggulangi dengan tindakan manajemen kelas, sedangkan masalah pengajaran harus ditanggulangi dengan tindakan pembelajaran.
Sebagai contoh :
Pak Kusno guru bidang studi PPKN, suatu kali mengajar dengan menggunakan pendekatan dan strategi yang menarik, mengembangkan variasi metode, dan menggunakan variasi media (media pandang-dengar) agar siswa yang enggan mengambil bagian dalam diskusi kelompok tertarik, aktif, dan rajin.
Pemecahan masalah yang dilakukan Pak Kusno sudah barang tentu tidak tepat, sebab membuat pelajaran lebih menarik adalah masalah pengajaran, sedangkan masalah peserta didik yang enggan mengambil bagian di dalam kegiatan kelompok merupakan masalah manajemen kelas. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penarikan diri peserta didik dapat menghalangi tercapainya tujuan khusus pengajaran yang hendak dicapai melalui kegiatan kelompok yang dimaksud. Sebaliknya, hubungan antarpribadi yang baik antara guru dan siswa, antara siswa dan siswatidak dengan sendirinya menjamin proses belajar mengajar akan menjadi efektif. Berkaitan dengan hal tersebut, manajemen kelas merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar-mengajar yang efektif (Entang dan Raka Joni, 1983)
Walaupun istilah mengajar (teaching) dan pengajaran (instruction) sering digunakan dalam arti yang sama, adalah sangat berguna apabila memandang mengajar sebagai sesuatu yang memiliki dua dimensi yang saling berhubungan, yaitu pengajaran dan manajemen. Mengajar dengan manajemen dapat dibedakan, tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran keduanya sulit dipisahkan. Manajemen kelas bermaksud menegakkan dan memelihara perilaku siswa menuju pembelajaran yang efektif dan efisien serta memudahkan pencapaian tujuan pengelolaan. Pengajaran dan manajemen bertujuan menyiapkan atau memproses – yaitu memproses atau menyiapkan perilaku-perilaku guru dan/atau siswa yang diharapkan memberikan kemudahan dalam pencapaian tujuan tertentu (Weber 1993: 1).

Keberhasilan Belajar Siswa
Dibawah ini, adalah gambaran proses pengajaran dan proses manajerial yang masing-masing meliputi empat proses :
No
Proses Pengajaran
Proses Manajerial
1.
Mengidentifikasi tujuan masalah
Menetapkan tujuan manajerial
2.
Mendiagnosis kebutuhan siswa
Menganalisis kondisi yang ada
3.
Merencanakan dan menerapkan aktivitas pengajaran
Memilih dan menerapkan strategi manajerial
4.
Mengevaluasi keberhasilan siswa
Menilai keefektifan manajerial


2,2. Pengertian dan Tujuan Manajemen Kelas
Manajemen dari kata management yang diterjemahkan menjadi pengelolaan.. berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Di pihak lain, Pengelolaan berarti
1) Proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain
2) Proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan yujuan organisasi
3) Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yyang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencpaian tujuan (Depdikbud,1989)
Dalam arti umum kelas menunjuk pada pengertian sekelompok siswa yang ada pawa waktu yang samamenerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Pengertian umum ini di tunjuk secara didaktis dengan batasan pengertian umum tersebut, Suharsini Arikunto (1986:17-18) mengemukakan tiga persyaratan untuk terjadinya kelas.
Pertama ; sekelompok anak, walaupun dalam waktu yang sama bersama-sama menerima pelajaran, teepi jika bukan pelajaran yang sama dari guru yangsama namanya bukan kelas.
Kedua; Sekelompok anak yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama tetapi dari guru yang berbeda, namanya bukan kelas.
Ketiga; Sekelompok anak yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama tetapi jika pelajaran tersebut diberikan secara bergantian, namanya bukan kelas. Kelas merupakan satu “kesatuan” sekolah terkecil. Di dalam penggunaan istilah kesatuan di dalam kaitan ini mengandung bahwa kelas mempunyai ciri atau karakteristik yang khusus. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap kelas yangterdapat pada satu sekolah mamiliki suasana yang berbeda atau memiliki kondisi yang berbeda. Misalnya pada sati Sekolah Dasar yang memiliki kelas IA, IB, IC tiap-tiap kelas mempunyai kekhususun sendiri-sendiri. Kelas IA adalah kelas yang penuh gaiarah, kompak, siswa-siswanya berprestasi baik. Kelas IB adalah kelas yang tenang dan menyenangkan. Kelas IC adalah kelas yang ramai, tidak kompak dan siswa-siswanya memiliki prestasi rendah.
Berdasar uraian di atas maksud manajemen kelas adalah mengacu pada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belaar dengan baik, terus-menerus dan berkelanjutan.
Terdapat sejumlah definisi tentang manajemen kelas berikut ini yang berpangkal pada sudut pandang yangberbeda.
a. Berdasar konsepsi lama dan modern
Menurut konsepsi lama manajemen kelas adalah sebagai upaya untuk mempertahankan keyertiban kelas. Sementara itu menurut konsepsi modern, manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tepat terhadap problem dan situasi manajemen kelas. Guru, menurut konsepsi lama , berugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem atau organisasi kelas sehingga individu dapat memanfaatkan kemampuannya, bakat dan energinya pada tugas-tugas individual (Johnson dan Mary Bani, 1970).
b. Bedasarkan pandangan operasional yang dikemukakan oleh Cooper (1986) dikelompokkan menjadi lima definisi,
Petama, definisi yang memandang bahwa manajemen kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Pandangan ini guru akan bersifat otoratif.
Kedua, Definisi yang didasarkan atas pandangan yang bersifat “permisif”. Pandangan ini menekankan bahewa guru betugas memeksimalkan perwujudan kebebasad kelas.
Ketiga, definisi yang didasarkan pada pandangan proses pengubahan tingkah laku. Menurut pandangan ini tugas gru adalah mengenbangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak dihaarapkan. Dalam hal ini, guru berfungsi sebagai pembantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang diharapkan melalui prinsip-prinsip penguatan.
Keempat, definisi yang di dasrkan atas pandangan proses penciptaan iklim sosio-emosonal yang positif di dalam kelas. Aggapan dasar pandangan ini adalah bahwa kegatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa dan antara siswa dan siswa.
Kelima, definisi yang didasarkan pada pandangan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok sebagai kuncinya. Pandangan tersebut menyatakan bahwa kehidupan kelas dalam kelompok memiliki pengaruh yang sangat berarti terhadap kegiatan belajar, kendatipun belajar dianggap sebagai proses individual.
c. Pengertian lain manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahakn untuk mewujudkan suasana belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswaagar dapat belajar dengan baik. Dengan demikian, manajemen kelas merupakan usaha sadar, untuk mengatur kegiatan belajar-mengajar secara sistematis. Usaha ssadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar-mengajar dan pegaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai.
Tujuan Manajemen Kelas adalah :
a) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk belajar dan berbuat lebih baik.
b) Menghilangkan hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran
c) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perlengkapan belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
d) Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya.
3.3. Aspek, Fungsi, dan Pengaturan Siswa dalam Manajemen Kelas
Aspek Manajemen Kelas
Aktivitas guru yang terpenting adalah mengelola, mengorganisasi, dan mengkoordinasi usaha atau aktivitas peserta didik menuju tujuan pembelajaran. Mengelola kelas merupakan ketrampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosa dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas menurut Johnson dan Bany, 1970 yaitu:
a. Sifat kelas,
b. Pendorong kekuatan kelas,
c. Situasi kelas,
d. Tindakan selektif,
e. Tindakan kreatif,
f. Kondisi kelas.
Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas seperti yang tertuang dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996) adalah sebagai berikut:
a. Mengecek kehadiran siswa
b. Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa
c. Mendistribusikan bahan dan alat
d. Mengumpulkan informasi identitas siswa
e. Mencatat data
f. Memelihara arsip
g. Menyampaikan bahan pelajaran
h. Memberikan tugas/PR
Hal-hal yang perlu diperhatikan para guru dalam pertemuan dengan siswa di kelas (Dirjen PUOD dan irjen Dikdasmen, 1996: 13)adalah sebagai berikut ini:
a. Ketika bertemu dengan siswa guru harus:
1) Memberikan salam lalu memperkenalkan diri,
2) Memberikan format isian tentang data pribadi siswa atau guru menyuruh siswa menulis riwayat hidupnya secara singkat.
b. Guru memberikan tugas kepada siswa
c. Guru mengatur tempat duduk siswa secara teratur.
d. Guru menentukan tata cara berbicara dan tanya jawab.
e. Guru membuat denah kelas atau tempat duduk siswa.
Fungsi Manajemen Kelas
Selain memberikan makna terpenting bagi terciptanya dan terpeliharanya kondisi kelas yang optimal, manajemen kelas berfungsi:
a. Memberikan dan melengkapi fassilitas untuk segala macam tugas seperti membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerja sama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerja sama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, mengubah kondisi kelas.
b. Memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan lancar.
Pengaturan Siswa dalam Manajemen Kelas
Pengaturan siswa dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok (Entang dan Raka Joni, 1983:12). Suharsimi Arikunto (1986) membedakan dan meninjau pengaturan siswa atas dua sudut pandang sehingga ada dua jenis pengelolaan siswa. Pertama, pengelolaan siswa dalam arti sempit, yang selanjutnya disebut pengelolaan atau manajemen kelas. Kedua, pengelolaan siswa dalam arti luas yaitu pengelolaan siswa termasuk juga urusan di luar belajar.
Tindakan manajemen kelas yang dilakukan oleh seorang guru akan efektif apabila dia dapat mengidentifikasikan dengan tepat hakikat masalah yang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi penanggulangannya yang tepat pula.
Munculnya masalah individu didasarkan pada anggapan dasar bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya mencapai tujuan tertentu yaitu pemenuhan kebutuhan untuk diterima oleh kelompok atau masyarakat dan untuk mencapai harga diri. Bila kebutuhan–kebutuhan itu tidak lagi dapat dipenuhi melalui cara-cara yang wajar, individu yang bersangkutan akan berusaha untuk mencapainya dengan cara-cara lain seperti dengan cara tidak baik atau a-sosial (Dreikur, 1968). Lebih lanjut Dreikurs, menyatakan bahwa akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut akan terjadi beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti berikut :
  1. Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain (attention getting behaviors). Gejala yang tampak dari tingkah laku ini adalah siswa membadut di kelas (aktif), atau berbuat dengan serba lamban (pasif) sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra.
  2. Tingkah laku yang ingin menujukkan kekuatan (power seeking behaviors). Gejalanya adalah siswa selalu mendebat, kehilangan kendali emotional, marah-marah, menangis (aktif), atau selalu “lupa” pada aturan-aturan penting di kelas (pasif).
  3. Tingkah laku yang bertujuan untuk menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors). Gejala yang muncul dari tingkah laku ini adalah tindakan menyakiti orang lain seperti mengata-ngatai, memukul, menggigit dan sebagainya. ( Kelompok ini nampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif saja).
  4. Peragaan ketidakmampuan (passive behaviors). Gejalanya adalah dalam bentuk sama sekali tidak mau mencoba melakukan apapun, karena beranggapan bahwa apapun yang dilakukan kegagalanlah yang dialaminya.
Dreikurs dan Cassel (1986) menyarankan adanya penyikapan terhadap tindakan para peserta didik sebagai berikut:
  1. Apabila seorang guru merasa terganggu terhadap perbuatan seorang siswa, maka kemungkinan tujuan siswa adalah untuk mendapatkan paerhatian.
  2. Apabila seorang guru merasa dikalahkan atau terancam, maka kemungkinan tujuan siswa yang bersangkutan adalah ingin menunjukkan kekuasaan.
  3. Apabila seorang guru merasa tersinggung atau disakiti maka kemungkinan tujuan siswa yang bersangkutan mungkin membalas dendam.
  4. Apabila guru benar-benar merasa tidak mampu berbuat apa-apa dalam menghadapi ulah siswa, maka kemungkinan yang dihadapinya adalah peragaan ketidakmampuan.
Keempat kemungkinan cara atau tindakan yang dilakukan individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada anak seusia sekolah seperti berikut ini :
  1. Pola aktif-konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrim dan ambisius untuk mrnjadi super star di kelasnya, dan mempunyai daya usaha uuntuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati.
  2. Pola aktif-destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar, dan memberontak.
  3. Pola pasif-konstruktif yaitu pola yang menunjukkan pada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksut supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian.
  4. Pola pasif-destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjukkan kemalasan (sifat pemalas) dan keras kepala.
Masalah berikutnya adalah masalah kelompok. Masalah ini merupakan masalah yang harus diperhatikan pula dalam manajemen kelas. Problem kelompok akan muncul yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kelompok. Masalah-masalah kelompok yang mungkin muncul dalam manajemen kelas adalah:
  1. Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.
  2. Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya, misalnya sengaja berbicara keras-keras di ruang baca perpustakaan.
  3. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya , misalnya mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara menyanyi dengan suara sumbang.
  4. ‘Membombong’ anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.
  5. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang telah digarap.
  6. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair.
  7. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru seperti gangguan jadwal, guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain, dan sebagainya.
Lebih lanjut Johnson dan Bany mengemukakan ciri-ciri kelompok dalam kelas seperti berikut:
a. Kesatuan Kelompok
Kesatuan kelompok memegang peranan penting dalam mempengaruhi anggota-anggotanya dalam bertingkah laku. Kesatuan berkaitan dengan komunikasi, perubahan sikap dan pendapat, standar kelompok, dan tekanan terhadap perpecahan kelompok atau ketidaksatuan. Penggunaan dominasi yang kuat oleh anggota kelompok dapat meningkatkan kesatuan. Kesatuan dapat dikembangkan dengan menolong siswa agar menyadari hubungan mereka satu sama lain merupakan alat pemersatu.
b. Interaksi dan Komunikasi
Interaksi terjadi dalam komunikasi. Jika beberapa orang atau anggota mempunyai pendapat tertentu, terjadilah komunikasi dalam kelompok dan diteruskan dengan interaksi membahas pendapat tersebut yang sering disertai dengan emosi yang memperkuat interaksi. Oleh karena itu, tiap kelompok hendaknya berusaha memperrtahankan interaksi kelompoknya. Agar terjaadi interaksi dan komunikasi yang diharapkan, guru perlu membantunya supaya tugas-tugas belajar dapat berlangsung secara wajar. Guru perlu mengetahui kebutuhan berkomunikasi siswa-siswanya dan memberikan kebebasan kepadanya untuk berbicara. Komunikasi verbal atau nonverbal, bila tidak terselesaikan dapat membuat situasi rusak. Untuk membantu mereka, guru perlu mengetahui latar belakang mereka.
c. Struktur Kelompok
Struktur informal dalam kelompok dapat mempengaruhi struktur formal. Beberapa individu yang mungkin merupakan struktur informal, bila selalu ditempatkan pada posisi yang tinggi, dapat merusak keakraban kelompok. Tempat anggota dalam kelompok perlu diusahakan agar menarik baginya. Posisi di atas bila perlu bisa dibuat berganti-ganti.
d. Tujuan-tujuan Kelompok
Apabila tujuan-tujuan kelompok ditentukan bersama oleh siswa dan guru dalam hubungan dengan tujuan pendidikan, anggota-anggota kelompok akan bekerja lebih produktif dalam menyelesaikan tugasnya. Dengan kata lain, siswa akan bekerja dengan baik apabila hal itu berhubungan dengan tujuan-tujuan mereka.
e. Kontrol
Hukuman-hukuman yang diciptakan bersama antara guru dan siswa yang akan dikenakan pada siswa yang melanggar, mungkin dapat memperkecil pelanggaran, kendatipun beberapa anak tetap akan tidak dapat belajar dengan baik. Cara yang baik adalah guru harus mendiagnosis kebuutuhan dan kesukaran kelompok sebelum membantu mereka. Tindakan-tindakan yang digunakan untuk mengontrol kelas dari yang paling ke paling baik ialah:
1) Hukuman dan ancaman
2) Pengubahan situasi dan pendapat
3) Dominasi atau pengaruh
4) Kerja sama atau partisipasi
f. Iklim Kelompok
Iklim kelompok adalah hasil dari aspek-aspek yang saling berhubungan dalam kelompok atau produk semua kekuatandalam kelompok. Iklim kelompok ditentukan oleh tingkat keakraban kelompok sebagai hasil dari aspek-aspek tersebut di atas. Keakraban yang kuat akan mengontrol perilaku anggota-anggotanya. Iklim kelompok merupakan hal yang penting dalam mengadakan perubahan dalam kelompok.
Di samping masalah individu dan masalah kelompok, hal lain yang erat kaitannya dengan manajemen kelas adalah organisasi sekolah. Organisasi sekolah menentukan penempatan siswa, pemanfaatan kemampuan dan bakat guru-guru, dan pengelolaan fisik. Organisasi, prosedur, tujuan, dan fisik direncanakan untuk menentukan perilaku siswa.

Pengaruh organisasi sekolah dipandang menentukan di dalam pengarahan perilaku siswa. Guru dan siswa dipengaruhi oleh organisasi sekolah secara keseluruhan, termasuk cara pengelompokan, kurikulum, rencana fisik, peraturan-peraturan, nilai sikap, dan tindakan. Asumsi ini masuk akal sebab organisasi sosial sebagai sub-sistem dari sistem sosial yang lebih luas termausk sistem persekolahan nasional.

Saturday, 29 June 2013

Kita semua adalah bagian dari Generasi Millenial "The me, me, me Generation"!!

Halo Semuanya.. Selamat datang dan terimakasih atas kunjungannya di blog saya. Jika Kalian berkenan dengan tulisan ini, silahkan kalian bisa "like" atau "share/kirim" ke teman kalian yang lain. Semoga tulisan yang saya posting kali ini dapat bermanfaat untuk kalian semua.


Dikutip dari : Kaskus
Dalam artikel sepanjang enam halaman garapan sosialis Joel Stein itu dituangkan banyak fakta yang menjelaskan mengapa orang muda yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, bisa jadi masalah sekaligus “dinamika baru” bagi perkembangan dunia. Golongan generasi ini disebut sebagai millenial.

Dijelaskan, karakter generasi millenial yang paling nampak adalah malas, narsistis dan penuh gengsi, dan cenderung tidak mandiri. Setelah baca rampung artikel ini, saya berpikir bahwa Indonesia punya semua karakter generasi millenial. Stein menggarisbawahi kesimpulan bahwa dengan segala macam sifat kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri, abai terhadap informasi-informasi signifikan dan terlalu banyak mengumbar hal-hal yang tidak relevan di internet, generasi millenial akan jadi penanda baru dalam sejarah peradaban. “Millenial tidak mencoba mengambil alih perbaikan dan pengembangan kehidupan, mereka bertumbuh sendiri tanpa perkembangan itu,” tulis Stein.

bagian ke-2


Saya mudah sekali melihat diri saya sendiri di cermin sebagai bagian dari generasi millenial dengan beberapa karakter yang masuk akal. Saya punya Twitter, pernah aktif di Facebook, menggemari fitur obrolan dan berbagi foto, sering mengeluh, malas untuk hal-hal yang sebenarnya baik, dan sangat berat untuk tidak mengikuti tren pakaian ataupun pemilihan gadget. Saya bahkan (di beberapa kasus) tidak tahu mengapa sebetulnya saya memiliki barang ini dan barang itu. Saya menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang tidak saya perlukan.

Akan tetapi saya tidak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Pendapat yang membanding-bandingkan “generasi millenial” dengan generasi Oprah Winfrey, Jennifer Lopez hingga Agnes Monica di Indonesia menurut saya hanya sebuah tolok ukur untuk melihat sejauh mana peradaban (dengan revolusi arus informasinya) membentuk kecenderungan sosial kaum muda.

Saya masih senang menikmati jalan-jalan di kawasan Malioboro Yogyakarta di sore hari, saat orang-orang berkumpul di titik-titik keramaian. Memang narsisitas adalah hal yang paling kelihatan, jika saya mengingat masa kecil saya ketika kamera digital masih menjadi visi. Saya memang merindukan masa-masa saat teman-teman jalan-jalan menggenggam keranjang berisi jajanan untuk dijual dan bukannya ponsel berkamera. Di Yogyakarta, sebagai kota dinamis yang lebih dari separuh aktivitasnya melibatkan kaum muda, saya mudah saja menyimpulkan bahwa generasi 1990-an Indonesia membenarkan semua teori di atas.

Bagian ke-3


Generasi “aku aku aku” Indonesia terbentuk karena persaingan global yang dipersenjatai kemajuan teknologi informasi. Jumlah kelas tengah Indonesia yang kini menyentuh angka 135 juta jiwa membentuk pencitraan baru bagi kaum muda di lingkungan sosial.

Mei lalu saya berbicara dengan Dr. Neila Ramdhani, dosen Psikologi UGM yang terlibat dalam riset pengaruh internet terhadap anak dan remaja. Ia berpendapat bahwa kecenderungan remaja saat ini mengikuti perkembangan teknologi, bukan didasari pada pengertian mereka terhadap dinamika informasi apalagi kemajuan teknologi itu sendiri. Saat seorang remaja SMA membeli iPhone, itu adalah karena dorongan eksternal, dan bukan pemahamannya sendiri terhadap perangkat yang digunakan. “Gadget di zaman sekarang bisa menjadi alat tawar yang kuat untuk mendapatkan posisi sosial,” jelasnya.

Seseorang dari kalangan bawah bahkan bisa merasa menjadi bagian dari kelas tengah bahkan atas ketika mereka memakai semua alat tawar yang dimaksud: pakaian, dandanan, kendaraan, ponsel, dsb. Walaupun itu berpura-pura. Bentuk pencitraan yang tidak terkontrol penuh membawa pada publisitas yang tidak seimbang.

Generasi “aku aku aku” dinilai sebagai pemalas dan sangat bergantung, cenderung tidak mandiri apalagi independen. Gemar memperlihatkan kemewahan yang bukan hasil kerja keras mereka alias pemberian orang tua. Mendambakan hasil tapi kurang menghargai proses. Mereka senang orang-orang mengetahui apa yang mereka lakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi karena menganggap Twitter memberi kesempatan untuk itu. Sekelompok mahasiswa yang baru lulus mencari pekerjaan di sana sini atau mengikuti Job Fair dan sebagian dari mereka tidak tahu apa yang benar-benar mereka inginkan untuk perbaikan hidup. Pengalaman harian mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu menonton reality show komedi percintaan di televisi atau membaca buku-buku hiburan menjadi pengalihan yang kuat dari pilihan hidup yang seharusnya sudah bisa ditentukan sejak usia 20.

Generasi sekarang abai terhadap hal-hal yang di luar minat mereka, atau di luar tren yang mereka ikuti. Generasi ini selalu mendambakan karir cemerlang di perusahaan besar setelah wisuda tetapi mereka kebingungan saat ditanya “apa yang bisa kau lakukan untuk membuat perubahan?” Saat mendapatkan karir baik, mereka tetap memoles diri karena mempercayai bahwa jenis pekerjaan masa kini masih terpisah-pisah dalam kasta.


Bagian Ke-4


Pe-de vs. narsisitas

Sekitar tahun 1970-an para ilmuwan dunia mempelajari pengarauh pengembangan kepercayaan diri bagi anak, yang di Amerika kemudian dikenal sebagai self-esteem, tingkat keempat dari lima tingkatan di teori Piramida Maslow. Kepercayaan diri atau yang di Indonesia sering disebut pe-de benar-benar jadi barang penting untuk diperkenalkan sebagai karakter moral seorang anak sejak lahir. Hanya saja dalam perkembangannya, kepercayaan diri ini menjelma menjadi tak terkendali.

Generasi millenial sering kali mengaku kepercayaan diri mereka terbentuk utuh, akan tetapi sulit membedakan pede dengan narsistis. Percaya diri bukanlah memfoto diri sendiri di depan cermin kamar mandi mal ataupun memasang foto di layar ponsel. Percaya diri bukanlah tampil gaya penuh warna di forum publik yang dihadiri oleh orang-orang penting dan terdidik. Kecenderungan keliru mengartikan narsistis sebagai percaya diri akan terlihat lucu, karena orang-orang dari generasi sebelum kita ini akan menemukan sebuah fenomena “transisi teori” yang mengejutkan. Pemaknaan terhadap “kepercayaan diri” justru hilang saat anak-anak muda dengan penampilan necis diminta berpidato di forum publik, kemudian terbata-bata.

Perhatikan saja. Banyak anak muda, dari remaja hingga usia 30, terlihat ingin tampil di publik secara visual. Mereka ingin jadi pusat perhatian akan tetapi enggan terlibat dalam publisitas nyata. Suka diperhatikan tapi tidak menunjukkan kepedulian. Narsisitas membawa sekelompok orang ceria dan warna-warni bergabung dengan kelompok lain yang punya kecenderungan dandanan sama, atau selera obrolan yang sama. Uniknya, tingkat kesetiaan dalam kelompok narsistis ternyata besar dan relatif tak bisa disaingi, sebagaimana diuraikan dalam buku Akar Kekerasan - Analisis Sosio-Psikologis atas Watak Manusia tulisan Erich Fromm. Lingkungan sosial jalanan memberi cap “gaul” tapi tidak mengakui keterlibatan anak-anak muda ini dalam fungsi lingkungan yang sebenarnya.


Bagian Ke-5


Beruntungnya, kecenderungan kelompok muda Millenial untuk berkelompok dan bergaul lebih luas memberi harapan bagi penyelesaian masalah-masalah sosial lainnya. Walaupun tingkat abai masyarakat meningkat, kelompok generasi “aku” tetap mempercayai bahwa mereka bisa melakukan sesuatu saat mereka hidup serius setelah usia 30. Ungkapan “bagaimana nantinya saja” kiranya akan menyelamatkan pembangunan bangsa yang nantinya akan dilakoni oleh muda-mudi yang saat ini masih bergaul ke sana ke mari. Bukti bahwa saat ini banyak instansi pemerintah memanfaatkan aktivitas kaum muda guna menuntaskan program-program berkelanjutan menjadi gejala yang menjanjikan. Tetap ada banyak ruang bagi muda-mudi yang mau berpikir relevan dan memiliki visi bagi pembangunan.

Generasi “aku aku aku” ala Millenial lahir setelah generasi yang di Amerika disebut sebagai Generasi X. Pendiri Facebook Mark Zuckerburg dan megabintang Lady Gaga jadi penanda penting bagi Millenial dunia, mengakhiri kejayaan generasi sebelumnya ala Warren Buffet dan Jennifer Lopez. Akan tetapi di Indonesia, tampaknya perubahan kejayaan antar-generasi ini belum akan terjadi dalam waktu yang dekat. Generasi X Indonesia setingkat aktris senior Jajang C. Noer, menteri perdagangan Gita Wirjawan atau sejarawan J.J. Rizal masih akan dipertahankan guna menyelamatkan peradaban bangsa. Jujur saja itu masuk akal, karena generasi Millenial kita masih belum muncul ke permukaan.

Kita sebenarnya tidak bisa menelan secara mentah-mentah tulisan diatas. Tetap kita harus menyaringnya mana yang baik dan buruk. Mungkin yang diungkapkan pada tulisan diatas terlalu memandang negatif kehidupan jejaring sosial, tetapi kalau menurut saya pribadi asalkan digunakan dengan positif itu bisa juga memberikan dampak positif juga untuk kehidupan.

Mungkin itu saja sedikit yang bisa tambahkan, kalau anda berkenan utnuk menambahkan silahkan bisa menambahkan dikolom komentar dibawah. Jangan Lupa "like" ataupun "share" ya.

Thursday, 27 June 2013

Akhirnya Harga BBM naik juga

Halo Semuanya..
Terimakasih sudah mampir ke blog saya ya.

Alhamdulilah ditengah kesibukan saya Kuliah dan mengurus Organisasi. Saya masih bisa menyempatkan diri untuk menulis. Tulisan ini sederhana memang, bukan tulisan yang dapat menggebrak orang, tapi mudah mudahan bisa memberikan manfaat. Sebelumnya mohon maaf kalau yang saya tuliskan disini mungkin kurang berkenan.

Kali ini saya menuliskan soal Kenaikan Harga BBM nih. Alhamdulilah setelah sekian lama maju mundur akhirnya bulan Juni ini  pemerintah menaikkan harga BBM juga, tepatny seminggu yang lalu yaitu tanggal 20 Juni 2013. 



Ini yang saya kutip di >> www.kemenperin.go.id
"Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak terelakan pada 2013. Situasi ekonomi dunia yang belum menentu dan kebutuhan pembangunan infrastruktur dalam negeri perlu direspon dengan penurunan biaya subsidi BBM.
Untuk mendorong akselerasi pembangunan infrastruktur dan sejumlah sektor vital di Tanah Air, harga BBM bersubsidi sebaiknya dinaikkan hingga mendekati harga pasar. Kompensasi kenaikan harga BBM bag! rakyat miskin dan hampir miskin bisa diberikan secara langsung berupa bahan pangan dan bantuan lainnya.

"Kalau harga BBM tetap disubsidi seperti sekarang, pembangunan infrastruktur dan sektor vital akan terus tertinggal, anggaran negara terbebani, dan rakyat akan hidup tidak realistis," ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto kepada Investor Daily di Vladivostok, Rusia, Senin (10/9)"



Memang betul sulit bagi kita untuk menghindari naiknya harga BBM. Ibaratnya kita tidak punya pilihan, pilihan satu-satunya adalah menaikkan harga BBM. Kalau Keputusan sudah diambil, kita sebagi warga negara yang baik kita harus menerima dan melaksanakannya. Kita yakin saja bahwa Keputusan yang diambil para dewan di kursi kepemimpinan pastilah mempertimbangkan berbagai macam pertimbangan. Tinggal yang harus kita lakukan adalah kita harus SURVIVE! ya betul sekali kita harus menjadi bangsa yang SURVIVE!!.. 
Menolak Kenaikan BBM dengan alasan pemerintah gak Becus mengelola negara itu sangat tidak Dewasa, apalagi menolak kenaikan BBM demi kepentingan politik, membunuh citra pemerintah itu adalah politiknya anak Kecil. Bangsa kita harus Dewasa. 

"Rakyat yang baik adalah yang menjalankan perannya dalam kehidupan bernegara seperti selayaknya seorang Presiden dan juga sebailknya"

Kita sebagai Rakyat, apa yang harus kita lakukan??. Kita budayakan Naik Transportasi Umum Kurangi Kendaraan Pribadi, sebagai Pemerintah apa yang harus dilakukan??.. Benahi Infrastruktur Transportasi Umum. 



"Dengan Kenaikan BBM kita turunkan angka kemacetan, turunkan emisi, turunkan polusi"

Mungkin itu satu contoh sederhananya yang bisa kita lakukan sebagai Rakyat.. sebagai Bangsa Indonesia.

 Kalau contoh gak sederhanannya ya mungkin saja kita akan menciptakan sebuah energi alternatif bahan bakar minyak yang lebih ramah lingkungan dan bisa diperbaharukan mungkin. Menciptakan Mobil Listrik. Memang tidak sederhana, tapi kalau kita semua mau kita BISA lah membuatnya itu gampang. hehehe :D

Demikian tulisan saya ini, sekali mohon maaf apabila kurang berkenan. Mari kita berdoa bersama agar kenaikan BBM bisa memberikan Perubahan bagi Indonesia menjadi Lebih Baik!